Pemerintah menegaskan bahwa pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tidak lagi berorientasi pada hafalan semata, melainkan pada penguatan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir siswa. Arah kebijakan ini menjadi sinyal perubahan pendekatan pembelajaran di sekolah, dari sekadar mengejar nilai menuju penguasaan kompetensi yang lebih mendalam.
Dalam berbagai forum sosialisasi, guru diminta untuk lebih fokus pada penguatan kemampuan dasar siswa, seperti literasi, numerasi, serta kemampuan memahami dan menganalisis informasi. Pendekatan ini dinilai penting agar siswa tidak hanya mampu menjawab soal, tetapi juga memahami konteks, menarik kesimpulan, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
TKA 2026 dirancang untuk mengukur sejauh mana siswa mampu mengolah informasi, bukan sekadar mengingat fakta. Model soal berbasis stimulus, penalaran, dan pemecahan masalah akan lebih dominan. Dengan demikian, proses pembelajaran di kelas diharapkan turut menyesuaikan, memberi ruang diskusi, eksplorasi, dan praktik berpikir kritis.
Para pendidik juga diingatkan agar tidak menjadikan TKA sebagai tekanan baru bagi siswa. Sebaliknya, penguatan kompetensi dasar perlu dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dalam pembelajaran harian. Lingkungan belajar yang sehat, menyenangkan, dan suportif diyakini menjadi kunci agar siswa berkembang secara optimal.
Selain itu, kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua menjadi faktor penting dalam menciptakan proses belajar yang berkualitas. Dukungan ekosistem pendidikan yang positif akan membantu siswa lebih percaya diri menghadapi asesmen tanpa rasa cemas berlebihan.
Dengan perubahan orientasi ini, TKA 2026 diharapkan menjadi instrumen evaluasi yang mendorong perbaikan kualitas pembelajaran secara menyeluruh. Pendidikan bukan lagi tentang seberapa banyak materi yang dihafal, tetapi seberapa dalam siswa memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang dimilikinya.


























