Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan dampaknya bagi profesi guru di Indonesia. Dalam sambutannya pada Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan 2024 di Surakarta pada Sabtu (31/1), Fajar menegaskan bahwa kehadiran AI tidak semestinya diperlakukan sebagai ancaman, melainkan kesempatan untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Ia mengingatkan, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa otomasi dan AI akan mengubah wajah dunia kerja, sehingga dunia pendidikan harus bergerak cepat menyiapkan murid dengan kompetensi yang relevan dengan masa depan.
Menurut Fajar, AI dapat menjadi “asisten cerdas” bagi guru, mulai dari membantu personalisasi pembelajaran sesuai kebutuhan tiap murid, menyediakan analitik belajar yang lebih akurat, hingga mengurangi beban tugas-tugas administratif yang menyita waktu. Dengan demikian, guru diharapkan dapat lebih fokus pada pendampingan, penguatan karakter, dan interaksi bermakna dengan peserta didik. Namun ia mengingatkan, secanggih apa pun teknologi, AI tidak bisa menggantikan peran guru sebagai sosok yang meneladankan nilai kemanusiaan, empati, dan kebijaksanaan dalam proses pendidikan. Pendidikan, tekannya, bukan sekadar pemindahan pengetahuan, tetapi proses memanusiakan manusia.
Fajar juga menyoroti pentingnya literasi digital yang kritis di kalangan guru. Di tengah penetrasi AI, guru dituntut mampu memilah informasi, memahami cara kerja teknologi, sekaligus mengarahkan murid agar menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab. Untuk itu, Kementerian menyiapkan berbagai program peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan koding dan pemanfaatan AI bagi puluhan ribu guru pada tahun akademik 2025/2026. Langkah ini diharapkan dapat melahirkan guru-guru yang tidak gagap teknologi, namun tetap berakar pada nilai kemanusiaan dan mampu mengarahkan teknologi demi kepentingan pendidikan yang inklusif, adil, dan relevan dengan tantangan zaman.






































