“Kisah Novi Noviana (39), guru honorer di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di Kabupaten Bekasi yang sudah mengabdi sekitar delapan tahun. Novi mengajar dengan gaji pokok sekitar Rp 850.000 per bulan, ditambah tunjangan transportasi dan makan, sehingga total penghasilannya tak sampai Rp 2 juta. Jumlah itu jauh dari layak untuk menopang kebutuhan keluarga, apalagi sang suami bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu.
Padahal, sebelum menjadi guru, Novi pernah bekerja sekitar lima tahun sebagai karyawan pabrik di bagian pengawas, dengan penghasilan bersama lembur bisa menembus di atas Rp 8 juta per bulan. Menjadi guru bukan cita-cita awalnya, bahkan dulu ia mengaku tidak pernah ingin menekuni profesi ini. Namun, karena latar belakang kuliahnya di jurusan pendidikan dan dorongan keluarga, ia akhirnya masuk ke dunia mengajar dan bertahan sampai hari ini. “Honorer dari mulai mengajar di Bogor ya, berarti mungkin sekarang sudah delapan tahun,” tuturnya pada Rabu, 28 Januari 2026.
Dengan pemasukan sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2 juta per bulan, Novi harus mengatur keuangan secara sangat ketat. Ia pernah berada pada titik terendah ketika di dompetnya hanya tersisa Rp 30.000 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, ia mengaku sangat terbantu oleh dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Dari pengajian yang diikutinya, Novi menanamkan satu prinsip penting dalam dirinya: rezeki tidak akan tertukar selama seseorang mau berusaha. Prinsip itu yang membuatnya tetap tenang dan bertahan.
Status honorer Novi hingga kini belum berubah. Ia sudah berupaya mendaftar seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namun penempatan yang ditawarkan berada di Papua sehingga tidak bisa ia ambil karena mempertimbangkan keluarga. Meski jalur formal peningkatan status dan kesejahteraan belum terbuka lebar, Novi memilih tetap mengabdi di kelas. Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi peran untuk membentuk karakter anak-anak. Ia menyadari gajinya kecil, tetapi ia tidak ingin menjadikan materi sebagai alasan untuk berhenti mengajar.




































