Di balik keheningan perbukitan Menoreh, Kulon Progo, terukir kisah menyentuh tentang Alvian Saraswita (28), seorang ibu dan guru honorer di SD Negeri 1 Pripih. Meskipun hanya bergaji Rp300 ribu per bulan—hasil iuran guru-guru PNS—ia memilih untuk tetap berdiri di depan kelas.
Penghasilan yang bahkan hanya cukup untuk biaya bensin harian ini, jauh dari kata layak untuk menghidupi anak balitanya. Namun, bagi Saras, menjadi pendidik adalah sebuah amanah dan bukti pengabdian sejati, bukan semata urusan materi.
Keputusan mulianya didasari oleh sebuah janji kepada sang ayah. Setelah melalui perjuangan panjang di bangku kuliah, ia bertekad memanfaatkan ijazah PGSD-nya agar bermanfaat bagi anak-anak.
Rasa dihargai itu datang saat murid-muridnya cemas dan menjenguknya ketika ia cuti melahirkan. Momen itulah yang membuatnya merasa, pengorbanannya sebagai pendidik sungguh bermakna.
Kepala Sekolah, Mujiasih, mengakui keprihatinan atas minimnya honor Saras dan memuji kegigihan serta kerelaan hati guru tersebut. Bahkan, Saras sering menolak pulang cepat dan memilih bekerja lebih giat demi pendidikan muridnya.
Kisah Saras adalah inspirasi nyata tentang ketulusan yang melampaui keterbatasan. Ia berharap perjuangannya ini dapat mencerdaskan anak bangsa, sekaligus menjadi harapan agar kesejahteraan para guru honorer di Indonesia suatu hari nanti dapat lebih diperhatikan.




































