Banjir yang melanda kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kembali mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Pada Senin, 12 Januari 2026, akses jalan menuju sekolah di wilayah tersebut berubah menjadi aliran sungai akibat genangan air yang cukup tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, para guru SD Negeri Jelakcatur menunjukkan dedikasi luar biasa. Demi memastikan hak belajar siswa tetap terpenuhi, sejumlah guru menjemput murid-murid mereka menggunakan perahu agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Pemandangan guru mendayung perahu menyusuri genangan banjir menjadi potret nyata perjuangan tenaga pendidik di daerah rawan bencana. Meski harus menghadapi risiko dan keterbatasan sarana, para guru tetap berupaya agar proses pembelajaran tidak terhenti.
“Kami tidak ingin anak-anak kehilangan kesempatan belajar meski kondisi sedang sulit,” ungkap salah seorang guru SDN Jelakcatur.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 32 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lamongan terdampak banjir akibat luapan air di kawasan Bengawan Jero. Beberapa sekolah mengalami genangan di halaman hingga ruang kelas, sementara akses menuju sekolah menjadi tantangan utama bagi siswa dan guru.
Meski demikian, kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah tetap diupayakan berjalan, baik dengan penyesuaian jam belajar maupun melalui metode alternatif sesuai kondisi lapangan. Semangat para guru menjadi kunci utama agar pendidikan tetap berlangsung di tengah bencana.
Pemerintah daerah setempat terus memantau kondisi sekolah-sekolah terdampak dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Upaya penanganan banjir dan pemulihan sarana pendidikan juga tengah dipersiapkan.
Peristiwa di Bengawan Jero ini menjadi pengingat bahwa tantangan geografis dan bencana alam masih menjadi hambatan nyata bagi akses pendidikan. Namun di balik genangan air, semangat dan pengabdian guru dalam menjaga hak belajar siswa tetap mengalir dan tidak ikut tenggelam.























