Penyaluran bantuan buku bacaan literasi menjadi salah satu faktor penting dalam upaya memulihkan kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 2 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, setelah terdampak banjir. Kehadiran buku-buku tersebut membantu sekolah menghidupkan kembali aktivitas literasi dan pembelajaran di tengah keterbatasan sarana yang masih berlangsung.
Kepala SMP Negeri 2 Dewantara, Islainiah, mengatakan bahwa bantuan buku literasi memberikan dampak nyata bagi peserta didik. Buku-buku tersebut dimanfaatkan dalam kegiatan belajar di kelas maupun program literasi sekolah, sehingga membantu siswa kembali fokus dan termotivasi untuk belajar pascabencana.
“Anak-anak mulai kembali bersemangat. Buku bacaan literasi sangat membantu mereka memulihkan konsentrasi dan minat belajar setelah mengalami banjir,” tutur Islainiah.
Selain buku bacaan, sekolah juga menerima dukungan berupa laptop Merah Putih dari Dinas Pendidikan pada 9 Januari 2026. Perangkat tersebut kini digunakan untuk menunjang aktivitas administrasi di ruang Tata Usaha. Bantuan lain yang diterima meliputi Buku Yasin serta perlengkapan kebersihan yang langsung dimanfaatkan untuk membersihkan lingkungan sekolah yang terdampak banjir.
Islainiah menjelaskan, bantuan laptop sangat membantu kelancaran administrasi sekolah di masa pemulihan, sementara alat kebersihan berperan penting dalam mempercepat proses pembersihan ruang-ruang yang terdampak.
Banjir sebelumnya menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas pendidikan, seperti ruang guru, ruang TIK, laboratorium IPA, tujuh ruang kelas, UKS, perpustakaan, toilet, dan mushalla. Akibatnya, tidak seluruh ruang belajar dapat difungsikan secara optimal. Pihak sekolah pun melakukan berbagai penyesuaian agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan.
Proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Dewantara telah kembali dimulai sejak 5 Januari 2026. Saat ini, pembelajaran dilaksanakan dengan delapan rombongan belajar yang memanfaatkan delapan ruang kelas dari total 16 ruang yang dimiliki sekolah, dengan penggunaan mebelair secara terbatas sesuai kondisi pascabanjir.
SMP Negeri 2 Dewantara melayani 185 peserta didik dengan dukungan 22 guru dan 13 tenaga kependidikan. Seluruh warga sekolah terlibat aktif memastikan layanan pendidikan tetap berlangsung, meskipun pemulihan sarana prasarana belum sepenuhnya tuntas. Semangat gotong royong dan kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi masa pemulihan ini.
Selain perbaikan fisik, sekolah juga memberikan perhatian pada pemulihan psikososial peserta didik. Kegiatan pendampingan dilakukan untuk membantu anak-anak mengatasi dampak psikologis pascabanjir, agar mereka kembali merasa aman dan nyaman berada di lingkungan sekolah.
“Sisi emosional anak-anak juga menjadi perhatian kami. Kami ingin mereka kembali merasa tenang dan aman saat mengikuti pelajaran,” ujar Islainiah.
Dalam masa pemulihan ini, sekolah masih membutuhkan dukungan lanjutan, baik dalam bentuk sarana prasarana maupun perangkat pendukung pembelajaran lainnya. Pihak sekolah berharap pemulihan dapat dilakukan secara bertahap hingga seluruh fasilitas kembali berfungsi secara optimal.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga pada pemulihan rasa aman dan semangat belajar peserta didik.
“Kemendikdasmen hadir untuk memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi dalam kondisi apa pun. Bantuan buku bacaan, perangkat pendukung, hingga dukungan psikososial merupakan bagian dari upaya memulihkan ekosistem pendidikan secara menyeluruh,” ujar Gogot.
Berdasarkan data per 25 Januari 2026, sebanyak 32 ribu buku teks utama dan 23 ribu buku nonteks pelajaran telah disalurkan ke wilayah Aceh sebagai bagian dari upaya pemulihan layanan pendidikan pascabencana.


























