Kasus penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah kembali jadi sorotan, bukan hanya karena jumlahnya terus naik, tapi juga karena sudah menyentuh kalangan pelajar. Di Solo, terungkap ada puluhan siswa SMP yang kecanduan pil koplo hingga harus menjalani rehabilitasi. Situasi ini membuat Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberi perhatian serius dan meminta langkah lebih agresif dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Jateng.
Dalam audiensi dengan Kepala BNN Jateng Toton Rasyid, Gubernur menegaskan bahwa Semarang dan Solo harus menjadi prioritas penanganan. Data menunjukkan, sepanjang Januari–Februari 2026 terdapat 318 kasus narkoba di Jawa Tengah, dengan Kota Semarang menyumbang 49 kasus—tertinggi di provinsi ini. Sementara itu, di Solo dalam periode Juni–September 2025, tercatat 50 kasus penyalahgunaan narkoba, termasuk di dalamnya pelajar SMP yang terjerat pil koplo.
Melihat kondisi tersebut, Gubernur tidak ingin upaya pencegahan berhenti pada seremonial belaka. Ia mendorong BNN Jateng untuk memperkuat langkah preventif di semua wilayah, termasuk dengan mendata kabupaten/kota yang belum memiliki BNN tingkat daerah agar bisa segera diusulkan pembentukannya. Menurutnya, memperluas kehadiran lembaga ini penting agar pengawasan dan edukasi bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Program seperti Kampung Bersinar (Bersih dari Narkoba) dan Kampung Tangguh diminta untuk dihidupkan kembali secara lebih masif melalui berbagai kegiatan di desa dan kelurahan. Luthfi menekankan bahwa pelibatan masyarakat adalah kunci, karena peredaran narkoba tidak bisa diberantas hanya oleh aparat tanpa dukungan lingkungan sekitar. Pemerintah Provinsi Jateng sendiri disebut terus menambah dukungan anggaran bagi BNN Jateng sebagai bentuk komitmen dalam perang melawan narkoba, terutama agar generasi muda tidak semakin banyak menjadi korban.







































