Aceh Tengah — Setelah tiga bulan hidup di pengungsian akibat banjir yang melanda wilayah mereka, anak-anak di Toweren, Kabupaten Aceh Tengah, akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Kepulangan ini menjadi momen haru sekaligus awal baru bagi mereka untuk menata kembali kehidupan yang sempat terhenti.
Banjir yang menerjang kawasan Toweren beberapa waktu lalu memaksa ratusan warga mengungsi demi keselamatan. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan, tidak hanya karena kehilangan tempat tinggal sementara, tetapi juga karena harus berhadapan dengan trauma akibat bencana.
Selama di pengungsian, berbagai pihak menghadirkan program sekolah bencana sebagai upaya memastikan proses belajar tetap berjalan. Kegiatan tersebut dikemas secara fleksibel dan ramah anak, dengan pendekatan bermain sambil belajar. Guru dan relawan berupaya menjaga rutinitas pendidikan agar anak-anak tetap memiliki rasa normalitas di tengah situasi darurat.
Selain pembelajaran, pendampingan psikologi menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Anak-anak diajak mengekspresikan perasaan melalui gambar, cerita, dan permainan kelompok. Pendekatan ini membantu mereka perlahan berdamai dengan ingatan tentang derasnya air bah yang merendam rumah dan lingkungan sekitar.
Seorang relawan pendamping menyampaikan bahwa pada awalnya banyak anak yang masih menunjukkan rasa takut saat mendengar suara hujan deras. Namun, seiring waktu dan dukungan yang konsisten, mereka mulai kembali ceria dan berani berinteraksi. “Kami ingin mereka tahu bahwa rasa takut itu wajar, tapi mereka tidak sendiri,” ujarnya.
Kini, saat mereka kembali ke Toweren, suasana haru bercampur semangat terasa di antara keluarga dan warga. Meski beberapa rumah masih dalam tahap perbaikan, kebersamaan dan gotong royong masyarakat menjadi kekuatan utama untuk bangkit.
Sekolah-sekolah di Toweren juga mulai kembali beraktivitas secara bertahap. Para guru berkomitmen melanjutkan pendampingan psikososial agar anak-anak benar-benar pulih, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional.
Kepulangan anak-anak Toweren bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan perjalanan untuk menemukan lagi rasa aman dan keberanian. Melalui sekolah bencana, permainan, dan dukungan psikologi, mereka perlahan belajar menata ulang mimpi—dan yang terpenting, menemukan kembali tawa yang sempat hilang.




























