Dari pinggir Lapangan Klumpit, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, suara peluit Bagas Chabib Kurniawan (36) memecah sore, mengarahkan anak-anak yang berlari mengejar bola. Di lapangan itu cintanya pada sepak bola tersalurkan, tetapi hidupnya tidak berhenti di sana. Bagas adalah guru, pelatih, sekaligus driver ojek online tiga peran yang ia jalani setiap hari demi menafkahi keluarga. Pagi hari, Bagas berdiri di depan murid-murid SDN Kauman Lor 01, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, sebagai guru PJOK dengan status Wiyata Bakti selama dua tahun terakhir, setelah sejak 2011 berpindah mengajar di beberapa sekolah negeri dan swasta. Harapannya sederhana: suatu saat bisa diangkat menjadi PPPK.
Di balik pengabdian panjang itu, ada angka yang menyakitkan: gaji sebagai guru honorer hanya sekitar Rp 300.000 per bulan. “Dengan gaji segitu, jelas tidak cukup,” ujar Bagas lirih, apalagi ia adalah kepala keluarga dengan dua anak yang membutuhkan biaya hidup dan pendidikan. Sejak 2015, ia menambah peran sebagai pelatih sepak bola usia dini di beberapa SSB, dan kini melatih di SSB POP Junior Salatiga serta ekstrakurikuler sepak bola di SMP Negeri 1. Sore hari dihabiskannya di lapangan, mendampingi anak-anak yang ia lihat bukan hanya sebagai murid, tetapi juga sebagai harapan bagi masa depan mereka dan dirinya.
Begitu matahari turun, Bagas kembali mengganti seragam. Jaket hijau ojek online ia kenakan sejak 2019, menyusuri jalanan Salatiga untuk mengejar order dari sekitar Pasar Sapi hingga kawasan Tegalsari. Ia mengakui, persaingan antar-driver kini jauh lebih ketat dan penghasilan tidak lagi bisa diandalkan seperti awal-awal bekerja, tetapi tetap ia jalani karena menjadi satu-satunya cara menutup kekurangan pendapatan. Tiga pekerjaan ini membuat waktu bersama keluarga menjadi kemewahan; Bagas menyebut hanya punya beberapa jam di rumah, selebihnya dihabiskan di kelas, lapangan, dan jalanan.
Meski demikian, ia memilih tidak larut dalam keluhan. “Yang penting ada doa keluarga supaya saya sehat,”




























