Pemerintah Kota Solo menargetkan pemenuhan kebutuhan 286 guru baru untuk jenjang SD hingga SMP sampai akhir 2026 mendatang. Jumlah itu merupakan proyeksi kekurangan guru selama periode Januari hingga Desember 2026 yang belum memiliki pengganti tetap. Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyanto, menjelaskan, kekosongan formasi ini muncul karena deretan guru memasuki masa purnatugas dan faktor lain yang tidak bisa dihindari.
“Kebutuhan sampai Desember 2026 itu sebanyak 286 guru. Itu merupakan proyeksi pengurangan guru selama Januari hingga Desember 2026 yang memang belum disiapkan penggantinya,” ujar Dwi saat ditemui di Balai Kota Solo, Rabu (4/2/2026).
Ia menjabarkan, penurunan jumlah guru tidak hanya datang dari gelombang pensiun, tetapi juga karena ada guru yang meninggal dunia, mutasi ke daerah lain, hingga promosi jabatan ke posisi struktural. Seluruh dinamika itu, kata Dwi, sudah dipetakan sejak awal tahun ini agar tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah negeri Surakarta.
Di sisi lain, upaya penambahan guru sempat tersendat oleh aturan larangan pengangkatan tenaga non-ASN. Kondisi tersebut memaksa Pemkot Solo mencari jalur alternatif. Dwi menuturkan, saat ini pihaknya menyiapkan skema rekrutmen melalui mekanisme kontrak ahli perorangan sebagai solusi sementara untuk mengisi kebutuhan guru di lapangan.
“Memang ada kendala karena adanya larangan pengangkatan non-ASN. Namun, tadi sudah kami sampaikan bahwa dimungkinkan untuk menggunakan mekanisme kontrak ahli perorangan. Kami juga sudah berkonsultasi dengan bagian pengadaan terkait hal ini,” jelasnya.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menegaskan bahwa penambahan guru menjadi salah satu fokus utama pemerintah kota pada tahun 2026. Bukan hanya di jenjang SD dan SMP, pemenuhan tenaga pendidik juga menyasar PAUD. Pemerintah menyiapkan peta jalan (road map) untuk menjamin kesejahteraan yang layak bagi guru serta peningkatan kualitas proses belajar mengajar, termasuk penguatan sarana dan prasarana pendidikan.



































