Giri Menang, 7 Januari 2026, menjadi pengingat bahwa perjuangan guru di lapangan sering kali jauh dari sorotan. Di Lombok Barat, guru-guru SMPN 2 Gerung atau SMPN Terbuka Gerung 2 harus menempuh perjalanan jauh demi memastikan anak-anak di wilayah terpencil tetap bisa melanjutkan pendidikan dan tidak putus sekolah. Kepala SMPN 2 Gerung, Hj. Rohanah, menjelaskan bahwa sekolah ini melayani 270 siswa yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar, dengan 190 siswa jalur reguler dan 80 siswa jalur SMP terbuka, dibimbing 31 guru.
Kegiatan belajar reguler berlangsung hingga sekitar pukul 14.00 WITA. Setelah itu, para guru bergantian berangkat menuju Tempat Belajar Mengajar (TBM) SMP terbuka yang letaknya jauh dari sekolah, yakni di Endok dan Taman Ayu Kecamatan Gerung, serta Lemer Sekotong. Jarak dari sekolah ke TBM disebut mencapai puluhan kilometer. Namun, hujan dan panas tidak menghentikan mereka, karena banyak anak di wilayah tersebut bergantung pada SMP terbuka dan bahkan meminta sendiri untuk bisa belajar di SMP Terbuka 2 Gerung.
Di setiap TBM terdapat guru pamong yang mengumpulkan siswa dan mendampingi proses belajar. Kegiatan belajar mengajar di TBM dilaksanakan tiga kali dalam sepekan. Bagi siswa yang kesulitan hadir di TKB atau rawan putus sekolah, sekolah menyediakan pola belajar mandiri. Guru pamong datang membawa buku dan bahan ajar, memantau perkembangan mereka dari dekat.
Melalui skema SMP terbuka ini, siswa yang bermasalah kehadiran atau mulai enggan sekolah tidak langsung dikeluarkan, melainkan dialihkan ke jalur terbuka agar tetap bisa menamatkan pendidikan SMP meski tidak belajar setiap hari. Rohanah menegaskan komitmen sekolah dengan kalimat yang kuat: “Pokoknya anak jangan putus sekolah.” Ia mengingatkan, rata-rata lama sekolah menjadi bagian dari indikator komposit IPM Lombok Barat, sehingga menjaga anak tetap di bangku pendidikan bukan hanya tugas formal, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial guru kepada masa depan daerah.




































