Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Prokindo di Desa Jeruju Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, terus berperan aktif membuka peluang pendidikan bagi masyarakat. Sejak berdiri pada 2007, PKBM ini menjadi alternatif pembelajaran bagi warga yang tidak terjangkau jalur pendidikan formal, sekaligus wadah penguatan kapasitas komunitas.
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, PKBM Prokindo tidak hanya fokus pada layanan pendidikan kesetaraan, tetapi juga mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mendorong kemandirian dan daya saing warga belajar. Lembaga ini hadir sebagai ruang inklusif yang memungkinkan siapa pun kembali mengakses pendidikan tanpa sekat dan diskriminasi.
Kepala PKBM Prokindo, Pujiono, menjelaskan bahwa seluruh program yang dijalankan berlandaskan lima semangat utama. Nilai-nilai tersebut menjadi pijakan dalam membentuk masyarakat pembelajar yang cerdas, mandiri, dan berdaya.
“PKBM Prokindo berkomitmen mencerdaskan anak bangsa agar memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan hidup yang dapat dijalankan secara mandiri maupun kolaboratif, tanpa diskriminasi,” ujar Pujiono.
Kelima semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran di kelas dan aktivitas pemberdayaan masyarakat. Program yang dikembangkan antara lain penguatan literasi informasi agar warga belajar mampu berpikir kritis dan bijak memanfaatkan internet, penyediaan pendidikan kesetaraan yang fleksibel bagi warga putus sekolah setara SD, SMP, dan SMA, serta pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan dan wirausaha berbasis kemitraan desa.
Selain itu, PKBM Prokindo juga mengedepankan penguatan keaksaraan fungsional untuk menekan angka buta huruf, serta pembelajaran keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan lokal agar warga belajar lebih produktif dan mandiri.
Menurut Pujiono, pendekatan tersebut menjadikan PKBM Prokindo sebagai contoh praktik baik yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan nonformal lainnya.
“Penguatan lima semangat utama, pemberdayaan berbasis kebutuhan lokal, dan inovasi yang aplikatif dapat menjadi rujukan bagi PKBM lain,” jelasnya.
Manfaat dari model pembelajaran ini dirasakan langsung oleh para warga belajar. Fausiah, salah satu alumnus PKBM Prokindo, mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang jauh melampaui harapannya.
“Saya banyak belajar di sini, terutama praktik seperti las, komputer, menjahit, dan berladang. Semua itu menjadi bekal penting untuk masa depan saya,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Hafiza, warga belajar PKBM Prokindo, yang merasakan pengalaman baru selama mengikuti pembelajaran.
“Sebelumnya saya tidak pernah belajar bahasa Mandarin atau keterampilan lain. Setelah masuk PKBM, pembelajarannya menyenangkan karena banyak hal baru yang saya dapatkan,” tuturnya.
Dari sisi orang tua, Busrah, salah satu wali murid, menilai PKBM Prokindo tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.
“Walaupun pendidikan nonformal, nilai akhlak sangat ditekankan. Anak-anak jadi lebih kritis ke arah positif, bahkan didorong untuk bisa mengajar. Ini menjadi kebanggaan bagi kami sebagai orang tua,” katanya.
Melalui pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat dan semangat pemberdayaan, PKBM Prokindo terus memperluas kontribusinya. Lembaga ini tidak sekadar menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga mencetak warga belajar yang melek digital, memiliki keterampilan wirausaha, bebas buta aksara, percaya diri, serta siap berkontribusi bagi keluarga dan lingkungan.
Menutup pemaparannya, Pujiono menegaskan bahwa lima semangat utama PKBM Prokindo akan terus dijaga sebagai fondasi program pembelajaran. Ia berharap seluruh warga belajar mampu memiliki keterampilan hidup yang relevan dan berperan aktif dalam pembangunan masyarakat.





















