Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk kelompok usia 3–6 tahun di Indonesia baru mencapai 46 persen. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak usia dini belum mendapatkan layanan pendidikan yang memadai pada fase paling krusial dalam perkembangan manusia.
Temuan tersebut menjadi sorotan serius, mengingat PAUD merupakan fondasi utama pembentukan sumber daya manusia (SDM) unggul. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan anak usia dini memiliki tingkat pengembalian atau return on investment (ROI) tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya, karena berdampak langsung pada kemampuan kognitif, sosial, emosional, dan kesehatan jangka panjang anak.
Namun ironisnya, alokasi anggaran untuk PAUD di Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan kajian BRIN, porsi anggaran PAUD berada di bawah 2 persen dari total belanja pendidikan dan kerap diperlakukan sebagai anggaran “sisa”, bukan sebagai prioritas pembangunan. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan besarnya peran PAUD dalam menentukan kualitas SDM di masa depan.
Peneliti BRIN menilai rendahnya APK PAUD dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan, kualitas satuan PAUD yang belum merata, hingga minimnya dukungan pembiayaan, terutama bagi keluarga prasejahtera. Di wilayah tertentu, PAUD masih dianggap sebagai layanan tambahan, bukan kebutuhan dasar anak.
Padahal, periode usia 3–6 tahun dikenal sebagai masa emas perkembangan otak, di mana hingga 90 persen struktur otak manusia terbentuk. Ketertinggalan stimulasi pada fase ini sulit dikejar pada jenjang pendidikan berikutnya dan berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas SDM antarwilayah dan antarkelompok sosial.
BRIN mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk menempatkan PAUD sebagai investasi strategis, bukan sekadar belanja sosial. Peningkatan anggaran, penguatan kualitas pendidik PAUD, serta perluasan akses layanan menjadi langkah mendesak agar anak Indonesia mendapatkan hak tumbuh kembang yang optimal sejak dini.
Selain pemerintah, keterlibatan masyarakat dan dunia usaha juga dinilai penting dalam membangun ekosistem PAUD yang berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang kuat dan pendanaan yang memadai, PAUD dapat menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan SDM unggul menuju Indonesia berdaya saing global.
Riset ini menegaskan bahwa keseriusan membangun masa depan bangsa tidak bisa ditunda hingga jenjang pendidikan tinggi. Investasi paling menentukan justru dimulai dari awal kehidupan anak. Tanpa perubahan paradigma dan keberpihakan anggaran yang jelas, potensi bonus demografi Indonesia berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.



































