BANTUL – Siswa kelas 4 hingga 6 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bantul mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film bertema cyberbullying di Transmart Jogja, sebagai bagian dari upaya edukasi karakter di era digital 🎬.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi para siswa, tetapi dirancang sebagai media pembelajaran yang menyenangkan untuk menanamkan nilai empati, tanggung jawab, serta etika dalam menggunakan media sosial sejak usia dini. Melalui alur cerita dan konflik yang dekat dengan kehidupan anak, siswa diajak memahami dampak perilaku negatif di dunia digital.
Guru pendamping menjelaskan, pemilihan tema cyberbullying didasarkan pada realitas bahwa anak-anak saat ini sudah sangat akrab dengan gawai dan media sosial. Tanpa pendampingan dan pemahaman yang tepat, ruang digital berpotensi menimbulkan masalah, mulai dari ejekan, perundungan verbal, hingga tekanan psikologis.
“Melalui film, anak-anak lebih mudah menangkap pesan. Mereka bisa melihat langsung bagaimana kata-kata di dunia maya dapat melukai perasaan orang lain,” ujar salah satu guru pendamping.
Selama kegiatan berlangsung, siswa tampak antusias mengikuti jalannya film. Seusai pemutaran, guru mengajak mereka berdiskusi ringan mengenai isi cerita, tokoh-tokoh dalam film, serta pesan moral yang dapat dipetik. Anak-anak didorong untuk mengungkapkan pendapat, perasaan, dan pandangan mereka tentang perilaku yang pantas dan tidak pantas di media sosial.
Kepala MIN 2 Bantul menyampaikan bahwa kegiatan nobar ini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan literasi digital yang dikemas secara kreatif. Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas, tetapi bisa melalui pengalaman langsung yang berkesan.
“Harapannya, siswa tidak hanya memahami apa itu cyberbullying, tetapi juga tumbuh kesadaran untuk saling menghargai, berhati-hati dalam berkomentar, dan bertanggung jawab atas jejak digital mereka,” jelasnya.
Dengan kegiatan ini, MIN 2 Bantul berharap para siswa mampu menjadi pengguna media sosial yang cerdas, beretika, dan berempati, sekaligus membawa nilai-nilai tersebut ke lingkungan sekolah, keluarga, dan pergaulan sehari-hari.



































