Setelah hampir dua bulan tidak beroperasi akibat terendam banjir dan lumpur, Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang akhirnya kembali melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Aktivitas belajar tatap muka ini resmi dimulai kembali pada Senin, 19 Januari 2026, menandai langkah awal pemulihan pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.
Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Supranata, menjelaskan bahwa dibukanya kembali KBM menjadi keputusan penting mengingat lamanya waktu murid tidak mengikuti proses pembelajaran. Selain aspek akademik, pihak sekolah juga ingin kembali menjalin kedekatan emosional antara guru dan murid yang terpisah sejak bencana terjadi.
“Kami para guru sudah sangat merindukan suasana belajar bersama anak-anak. Sejak banjir, kami sudah lama tidak bertemu dengan mereka,” ungkap Supranata.
Ia menambahkan, hari pertama KBM juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk memberikan semangat, hiburan, dan penguatan mental kepada para murid agar kembali antusias mengikuti kegiatan sekolah. Hal ini penting mengingat banyak siswa dan keluarga mereka turut terdampak banjir bandang, bahkan harus kehilangan harta benda dan tinggal di pengungsian.
Seiring dengan proses pemulihan, beberapa ruang sekolah kini sudah bisa digunakan kembali. Meski demikian, kegiatan belajar masih dilakukan dengan keterbatasan sarana, karena banyak meja dan kursi yang rusak akibat terendam air dan lumpur.
Dari total sekitar 62 ruang kelas, baru tujuh kelas yang berhasil dibersihkan dan difungsikan kembali untuk KBM. Selain itu, ruang guru, kantor sekolah, serta perpustakaan juga telah selesai dibersihkan.
Untuk sementara, murid yang mengikuti pembelajaran baru berasal dari wilayah yang berdekatan dengan sekolah, seperti Kecamatan Rantau, Kota Kuala Simpang, Seruway, dan Karang Batu. Jumlah siswa yang hadir saat ini sekitar 35 orang, mengingat akses menuju sekolah dari daerah lain masih belum sepenuhnya pulih.
“Yang bisa hadir saat ini memang siswa yang rumahnya dekat sekolah, karena kondisi akses masih banyak yang belum normal,” jelas Supranata.
Kembalinya aktivitas sekolah disambut dengan antusias oleh para orang tua dan murid. Muslim, wali murid dari Cahaya, mengungkapkan rasa lega dan bahagianya karena anak-anak akhirnya bisa kembali bersekolah setelah lama terhenti.
“Anak-anak sudah sangat ingin sekolah lagi. Mereka mulai jenuh di pengungsian,” katanya.
Hal serupa disampaikan Cahaya, salah satu murid SLBN Pembina Aceh Tamiang. Ia mengaku sangat senang dapat kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
“Senang sekali bisa sekolah lagi. Sudah bosan di pengungsian,” ujarnya.





















