Di Tolikara, Papua Pegunungan, perjalanan menuju sekolah ternyata bukan sekadar soal berangkat pagi dan pakai seragam rapi. Sebuah video yang ramai dibicarakan di media sosial memperlihatkan anak-anak SD yang tinggal di sekitar Bandara Karubaga harus menunggu pesawat lebih dulu sebelum mereka bisa menyebrang ke sekolah.
Tampak deretan siswa berseragam berdiri tertib di sisi landasan pacu. Jalur yang mereka lewati setiap hari menuju sekolah ternyata juga difungsikan sebagai runway bandara. Setiap kali ada pesawat akan lepas landas atau mendarat, mereka berhenti sejenak, menunggu aba-aba aman dari petugas.
Begitu pesawat mengudara dan area dinyatakan clear, barulah anak-anak itu menyeberang bersama-sama, berjalan beriringan menuju sekolah dasar yang berada tidak jauh dari bandara, seperti SD YPPGI Karubaga dan beberapa sekolah lain di sekitarnya. Dalam video tersebut juga terselip doa dan harapan agar mereka tetap sehat dan terus bersemangat menuntut ilmu hingga kelak bisa menjadi pemimpin di negeri ini.
Sampai Jumat, 20 Februari 2026, unggahan itu telah disukai lebih dari 51 ribu pengguna Instagram dan mendapat banyak komentar yang menyentuh. Banyak warganet menyoroti betapa akses menuju sekolah di daerah terpencil masih penuh tantangan, mulai dari kondisi geografis hingga minimnya infrastruktur pendukung. Namun di balik keterbatasan itu, semangat belajar anak-anak Papua terlihat begitu kuat, seolah menunjukkan bahwa jarak dan risiko bukan alasan untuk menyerah pada mimpi.
Konten seperti ini bukan hanya mengundang rasa haru, tetapi juga bisa jadi bahan refleksi tentang pemerataan akses pendidikan dan infrastruktur di Indonesia. Bahwa di satu sisi ada anak-anak yang dengan mudah naik kendaraan ke sekolah, di sisi lain ada mereka yang bahkan harus berbagi jalur dengan pesawat demi bisa duduk di bangku kelas setiap pagi.





































