Selama ini, sekolah berasrama sering dicap sebagai tempat yang kumuh, pengap, dan kurang terurus. Di SMA Al Umanaa Boarding School, Sukabumi, anggapan itu justru dijadikan titik balik untuk berubah. Seorang guru bernama Diaz Alief Nurilyas bertanya pada dirinya sendiri: benarkah asrama tidak mungkin menjadi ruang yang bersih, rapi, dan sehat? Dari kegelisahan itu lahir sebuah gerakan kolektif. Diaz bersama para siswa kemudian membangun Collective Eco Initiative (CEI), sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya mengandalkan imbauan atau jadwal piket, tetapi mengubah cara sekolah memperlakukan sampah. D
i lingkungan asrama, ratusan siswa menghasilkan sampah setiap hari, dan CEI hadir sebagai sistem terpadu, bukan sekadar kampanye sesaat. Melalui konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), limbah organik diolah menggunakan maggot Black Soldier Fly yang mampu mengurai sisa makanan dengan cepat sekaligus berpotensi memberi nilai ekonomi. Tahap berikutnya, mereka memanfaatkan eco enzyme, sementara barang-barang yang masih layak pakai dijual kembali melalui program garage sale. Hasilnya, dalam setahun, sistem ini mampu mengelola sekitar 90.000 kantong sampah dari lingkungan asrama. Perjalanan menuju perubahan tentu tidak instan. Mengubah kebiasaan lama butuh waktu dan komitmen.
Ada penyesuaian, ada resistensi, namun perlahan pola pikir bergeser. Bagi Diaz dan para siswa, sampah kini dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Keterlibatan mereka di ajang ASRI Awards 2025 semakin menguatkan langkah, bukan hanya karena penghargaan, tetapi karena adanya proses mentoring dan diskusi dengan berbagai pihak yang membuka perspektif baru. Yang menarik, bagi Diaz, CEI bukan semata proyek lomba. Ia melihatnya sebagai model yang bisa ditiru sekolah berasrama lain yang menghadapi masalah serupa. Setelah lebih dari delapan tahun berjalan, harapan berikutnya adalah hadirnya dukungan kebijakan, pendampingan, dan replikasi yang lebih luas. Tujuan akhirnya sederhana namun penting: menjadikan budaya bersih dan rapi sebagai identitas, bukan paksaan. Ketika kebersihan sudah menjadi kebiasaan, menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan bersama.



































