Kekerasan di sekolah bukan lagi kasus satu dua orang, tapi sudah jadi tren yang mengkhawatirkan. Dalam 5 tahun terakhir, laporan kekerasan di satuan pendidikan terus naik, hingga mencapai 641 kasus pada 2025, dengan hampir separuhnya melibatkan relasi guru–siswa. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerita tentang anak-anak yang ruang belajarnya berubah jadi ruang traumatik.
Relasi kuasa di sekolah—guru yang dominan, murid yang harus patuh, senior yang merasa lebih berhak—membuat kekerasan mudah dinormalisasi dan sering dianggap bagian dari “mendisiplinkan”. Jika sekolah dibiarkan seperti ini, kita sedang membiarkan luka psikologis dan siklus kekerasan diwariskan dari generasi ke generasi. Saatnya ekosistem pendidikan berbenah: perkuat etika profesi guru, sediakan mekanisme pengaduan yang aman bagi siswa, libatkan orang tua, dan wujudkan sekolah sebagai ruang aman, bukan ruang takut.



































