Pemanfaatan teknologi pendidikan melalui interactive flat panel (IFP) serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin mendorong pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan di sekolah. Hal ini terlihat dari hasil pemantauan bersama antara Dharma Wanita Persatuan (DWP) dan Kemendikdasmen di dua sekolah, yakni SD Negeri Gandaria Utara 03 dan SMP Negeri 240 Jakarta, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Marlinah Hafidz Muksin serta Guritno Wahyu Winajarko. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memastikan program pendidikan berjalan optimal sekaligus memberikan motivasi bagi sekolah.
Plt. Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Sarwoko, menyampaikan bahwa kunjungan ini membawa semangat baru bagi daerah dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Ia menegaskan pentingnya memastikan program pemerintah benar-benar berdampak di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Penasehat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menyoroti pentingnya variasi menu dalam program MBG agar anak-anak tidak bosan. Ia juga menekankan bahwa kualitas gizi tetap harus menjadi prioritas utama dengan perhitungan dari tenaga ahli.
Hal serupa disampaikan oleh Brotojoyo Ratnawati Gogot Suharwoto yang mengungkapkan tantangan dalam membiasakan pola makan sehat pada anak. Menurutnya, pengaruh iklan makanan dan perubahan gaya hidup menjadi faktor yang membuat anak kurang tertarik mengonsumsi makanan sehat.
Meski demikian, manfaat program MBG dirasakan langsung oleh siswa. Beberapa siswa mengaku senang karena selain membantu menghemat uang jajan, makanan yang disediakan juga enak dan bergizi. Program ini dinilai mampu mendukung kebiasaan makan sehat sejak dini.
Di sisi lain, penggunaan IFP terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran. Siswa menjadi lebih mudah memahami materi karena tampilan visual yang interaktif dan menarik. Mereka juga merasa lebih semangat mengikuti pelajaran karena suasana belajar menjadi lebih hidup.
Guru di SMP Negeri 240 Jakarta, Ulfa Niswatul Awaliyah, menjelaskan bahwa perangkat IFP digunakan secara aktif oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan, penggunaannya cukup tinggi karena dinilai sangat membantu proses pembelajaran.
Ia menambahkan bahwa siswa kini lebih berani tampil di depan kelas untuk mencoba simulasi pembelajaran secara langsung. Ke depan, diharapkan jumlah perangkat IFP dapat ditambah serta diikuti dengan pelatihan bagi guru agar mampu membuat konten pembelajaran yang lebih kreatif dan mandiri.
Dengan dukungan teknologi dan program gizi yang tepat, sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif, sehat, dan mendukung pengembangan karakter siswa melalui penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).









