Balikpapan – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis kepedulian lingkungan melalui Gerakan Sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Program tersebut dirangkai dengan kegiatan penanaman mangrove di Kalimantan Timur sebagai upaya membangun budaya hidup bersih, sehat, dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan.
Kegiatan dipusatkan di SMA Negeri 8 Balikpapan yang dikenal sebagai sekolah mangrove pertama dan satu-satunya di Indonesia. Lokasinya yang berdampingan langsung dengan kawasan mangrove menjadikan sekolah tersebut simbol penerapan pendidikan lingkungan hidup yang terintegrasi dengan proses pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari upaya menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis. Menurutnya, hubungan yang baik tidak hanya harus dibangun antar manusia, tetapi juga dengan alam sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga bersama.
Melalui Gerakan Sekolah ASRI, Kemendikdasmen ingin menjadikan sekolah sebagai ruang pembentukan karakter yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Sekolah juga diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif seperti menjaga kebersihan, merawat lingkungan, dan meningkatkan kesadaran ekologis peserta didik sejak usia dini.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kegiatan penghijauan, termasuk penanaman mangrove, memiliki manfaat besar bagi keberlanjutan lingkungan. Selain membantu menjaga ekosistem pesisir, mangrove juga berfungsi mengurangi abrasi, melindungi kawasan pantai, serta mendukung keberlangsungan kehidupan masyarakat di masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Rudy Mas’ud menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan ekologis dan tanggung jawab sosial. Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan harus ditanamkan sejak dini agar menjadi bagian dari karakter generasi masa depan.
Sementara itu, Hetifah Sjaifudian menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kerusakan ekosistem, sekolah dapat menjadi tempat lahirnya kebiasaan sederhana namun berdampak besar, seperti menjaga kebersihan, menanam pohon, bekerja sama, dan merawat lingkungan sekitar.
Gerakan Sekolah ASRI juga sejalan dengan semangat nasional Gerakan Indonesia ASRI yang mengajak masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah sebagai bagian dari aksi menghadapi perubahan iklim. Melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat, upaya pelestarian lingkungan diharapkan dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Kemendikdasmen berharap Gerakan Sekolah ASRI mampu melahirkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Dengan lingkungan belajar yang aman, sehat, bersih, dan indah, sekolah diharapkan menjadi pusat pembentukan generasi yang bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian bumi dan menghadapi tantangan masa depan.








