JAKARTA – Buah rambutan yang selama ini identik dengan musim penghujan dan akhir tahun sempat sulit ditemukan pada penghujung tahun 2025. Kondisi tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya mengapa produksi rambutan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pakar buah tropika dari IPB University, Prof. Sobir, menjelaskan bahwa minimnya produksi rambutan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu iklim, fisiologi tanaman, dan pergeseran nilai ekonomi.
1. Kondisi Iklim Kurang Mendukung
Menurut Prof. Sobir, kondisi iklim pada tahun 2025 didominasi oleh kemarau basah, sehingga proses induksi pembungaan pada tanaman rambutan tidak berlangsung secara optimal.
Akibatnya, jumlah bunga yang muncul berkurang dan produksi buah menjadi lebih sedikit dibandingkan musim normal.
2. Rambutan Memiliki Siklus Berbuah Dua Tahunan
Prof. Sobir menjelaskan bahwa rambutan termasuk tanaman yang memiliki sifat biannual bearing, yaitu menghasilkan panen melimpah pada satu tahun, kemudian mengalami penurunan produksi pada tahun berikutnya.
Hal tersebut terjadi karena cadangan hasil fotosintesis tanaman banyak digunakan saat panen sebelumnya sehingga membutuhkan waktu untuk kembali pulih.
“Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2–4 minggu,” jelas Prof. Sobir.
3. Nilai Ekonomi Rambutan Relatif Rendah
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah aspek ekonomi.
Menurut Prof. Sobir, harga jual rambutan yang relatif rendah membuat sebagian petani memilih tidak memanen ketika jumlah buah yang dihasilkan sedikit karena dinilai kurang menguntungkan.
Kondisi tersebut ikut menyebabkan pasokan rambutan di pasar menjadi lebih terbatas.
Produksi Berpotensi Pulih pada 2026
Meski demikian, Prof. Sobir menyampaikan bahwa musim buah sangat dipengaruhi oleh pola iklim.
Jika periode kemarau berlangsung lebih jelas dan cukup kering, maka pembungaan tanaman dapat berlangsung lebih baik sehingga produksi rambutan pada musim berikutnya berpotensi meningkat.
Harapan tersebut diperkuat dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dengan kategori normal pada tahun 2026, berkisar antara 1.500–4.000 mm per tahun.
Sementara itu, sekitar 5,1 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan dengan kategori di atas normal.
Dengan kondisi tersebut, produksi rambutan pada tahun 2026 diharapkan dapat kembali normal sehingga masyarakat dapat menikmati buah khas musim penghujan ini dalam jumlah yang lebih melimpah.









