JAKARTA – SEAMEO BIOTROP resmi meluncurkan Geopark Educational Model for School (GEMS) melalui kegiatan Regional Webinar and National Training bertajuk “Geoparks as Living Laboratories” yang diselenggarakan di Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark pada 28–31 Juli 2026.
Program ini bertujuan mengembangkan geopark sebagai laboratorium hidup yang mendukung pembelajaran kontekstual berbasis biodiversitas, agrobiodiversitas, budaya lokal, serta pembangunan berkelanjutan.
Libatkan Peserta dari Tiga Negara
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan regional webinar yang diikuti oleh 82 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Sementara itu, pelatihan nasional melibatkan 44 guru dan tenaga kependidikan dari berbagai sekolah di kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pendidik dalam memanfaatkan potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang relevan dan kontekstual.
Geopark sebagai Ruang Belajar Nyata
Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menjelaskan bahwa GEMS menjadi langkah penting dalam menghubungkan sekolah dengan kekayaan:
- Geodiversitas.
- Biodiversitas.
- Agrobiodiversitas.
- Budaya lokal.
- Pengetahuan masyarakat setempat.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik didorong memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui observasi lapangan, praktik, dan interaksi dengan masyarakat.
Dukung Pembelajaran Kontekstual dan Karakter Peduli Lingkungan
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Wirman, mengapresiasi peluncuran program GEMS.
Menurutnya, program ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang mendorong pembelajaran kontekstual sekaligus membangun karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan.
“Pendekatan GEMS mendorong guru memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar sekaligus menumbuhkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan. Kami berharap hasil pelatihan ini dapat diterapkan secara nyata di sekolah, khususnya di sekitar kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark,” ujarnya.
Model yang Dapat Direplikasi di Berbagai Geopark
Deputi Direktur Program SEAMEO BIOTROP, Doni Yusri, menjelaskan bahwa GEMS dikembangkan untuk menjembatani potensi geopark dengan proses pembelajaran di sekolah.
Menurutnya, pengalaman implementasi di Rinjani-Lombok diharapkan menjadi model yang dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan karakteristik geopark di berbagai daerah di Indonesia maupun Asia Tenggara.
“Melalui GEMS, kami ingin mendorong sekolah melihat geopark sebagai ruang belajar yang nyata. Pengalaman di Rinjani-Lombok diharapkan menjadi model yang dapat dikembangkan dan direplikasi sesuai karakteristik geopark di daerah lain,” jelas Doni Yusri.
Belajar Langsung di Lapangan Selama Empat Hari
Selama empat hari pelaksanaan program, peserta mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran di kelas maupun di lapangan, antara lain:
- Analisis vegetasi.
- Identifikasi spesies invasif.
- Budidaya tanaman obat.
- Hortikultura dataran tinggi.
- Pemetaan berbasis Geographic Information System (GIS).
- Observasi lapangan.
- Penyusunan rencana aksi implementasi GEMS.
Seluruh kegiatan dirancang agar guru memperoleh pengalaman langsung dalam mengintegrasikan potensi geopark ke dalam proses pembelajaran.
Perkuat Pendidikan Berkelanjutan di Indonesia
Implementasi perdana GEMS di Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan program serupa di berbagai kawasan geopark lainnya.
Melalui kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, pengelola geopark, dan berbagai pemangku kepentingan, geopark diharapkan semakin berperan sebagai laboratorium hidup yang mendukung pendidikan, konservasi lingkungan, serta pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.




