YOGYAKARTA – Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., menyoroti rencana pemerintah membentuk Universitas Republik Indonesia (URI). Menurutnya, pendirian perguruan tinggi baru tersebut perlu melalui kajian yang lebih komprehensif agar benar-benar menjawab kebutuhan pendidikan tinggi nasional.
Nurmandi menilai kajian tersebut harus mencakup berbagai aspek, mulai dari relevansi program studi, kesiapan sumber daya manusia, hingga dampaknya terhadap anggaran pendidikan nasional.
URI Dirancang Fokus pada STEM dan Kedokteran
Sebelumnya, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Aris Marsudiyanto, menyampaikan bahwa Universitas Republik Indonesia akan berfokus pada bidang:
- Science
- Technology
- Engineering
- Mathematics (STEM)
- Ilmu kesehatan dan kedokteran
Namun, menurut Nurmandi, Indonesia saat ini telah memiliki banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang menyelenggarakan program studi di bidang tersebut.
Meski demikian, ia mengakui bahwa tingkat peminat dan daya tampung masing-masing program studi memang tidak selalu sama.
Konsep URI Dinilai Perlu Disinkronkan
Pemerintah juga merancang URI sebagai bagian dari sistem pendidikan untuk menyiapkan calon pemimpin pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN).
Menurut Nurmandi, orientasi tersebut perlu diselaraskan dengan fokus akademik yang akan dikembangkan.
“Kalau basisnya berasal dari lembaga yang berorientasi pada ilmu sosial dan penyiapan calon pemimpin, sementara fokus pendidikannya diarahkan pada STEM dan kedokteran, kesesuaiannya perlu dikaji kembali,” ujar Achmad Nurmandi.
Ia mengingatkan agar arah akademik dan desain kelembagaan URI tidak menimbulkan ketidakjelasan dalam pelaksanaannya.
Jangan Tumpang Tindih dengan Perguruan Tinggi yang Sudah Ada
Nurmandi juga menilai pemerintah perlu memastikan keberadaan URI tidak menimbulkan tumpang tindih dengan program pendidikan yang telah berjalan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Menurutnya, kajian pendirian URI sebaiknya mencakup beberapa aspek penting, antara lain:
- Kebutuhan tenaga kerja nasional.
- Peta program studi yang sudah tersedia.
- Proyeksi jumlah mahasiswa.
- Kesiapan dosen dan tenaga pengajar.
- Kebutuhan anggaran.
- Manfaat yang diharapkan bagi pembangunan nasional.
Dengan kajian yang menyeluruh, pemerintah dapat memastikan bahwa perguruan tinggi baru benar-benar memberikan nilai tambah bagi sistem pendidikan tinggi Indonesia.
Sudah Banyak Jalur Menyiapkan Calon Pemimpin
Terkait tujuan URI untuk mencetak calon pemimpin pemerintahan dan BUMN, Nurmandi berpendapat bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai jalur pendidikan dan pelatihan untuk tujuan tersebut.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Pendidikan kedinasan.
- Program Magister Manajemen.
- Pendidikan eksekutif.
- Pelatihan kepemimpinan.
- Program pengembangan sumber daya manusia di berbagai perguruan tinggi.
“Apabila kebutuhannya adalah menyiapkan calon pemimpin pemerintahan atau BUMN, sebenarnya sudah terdapat berbagai jalur pendidikan dan pelatihan yang dapat diperkuat. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi tanpa harus langsung membentuk institusi baru,” jelas Nurmandi.
Perlu Kajian Matang Sebelum Direalisasikan
Pandangan Rektor UMY menunjukkan bahwa pembentukan Universitas Republik Indonesia memerlukan perencanaan yang matang agar selaras dengan kebutuhan nasional dan tidak mengulang fungsi yang telah dijalankan oleh perguruan tinggi yang ada.
Kajian yang komprehensif diharapkan dapat memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan tinggi memberikan manfaat nyata, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta mendukung pembangunan Indonesia secara berkelanjutan.









