JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengungkapkan bahwa angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia belum mengalami penurunan yang signifikan dalam lima hingga enam tahun terakhir. Karena itu, pemerintah terus menyiapkan berbagai strategi untuk memperluas akses pendidikan, salah satunya melalui Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) jenjang SMA.
Pernyataan tersebut disampaikan Fajar di Jakarta Selatan pada Kamis (30/7/2026).
Angka ATS Masih Relatif Sama
Fajar menjelaskan bahwa berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2020, jumlah Anak Tidak Sekolah masih relatif sama dengan kondisi pada tahun 2026.
“Dalam 5-6 tahun terakhir, kalau kita melihat data ATS itu penurunannya kurang signifikan. Bahkan kalau kita merujuk ke data Susenas BPS tahun 2020, angka ATS-nya itu kurang lebih sama dengan angka ATS hari ini,” ujar Fajar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan ATS masih memerlukan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Tiga Kelompok Anak Tidak Sekolah
Fajar menjelaskan bahwa sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2026, Anak Tidak Sekolah (ATS) dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu:
- Anak yang belum pernah bersekolah.
- Anak yang putus sekolah (drop out) dan tidak melanjutkan pendidikan.
- Anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, misalnya dari SMP ke SMA.
Menurutnya, kelompok ketiga menjadi salah satu penyumbang tingginya angka ATS.
“Jadi mungkin inilah yang klaster yang ketiga ini yang membuat angka ATS-nya lumayan karena dari SMP tidak lanjut ke SMA dianggap ATS,” jelasnya.
PJJ Menjadi Solusi Menjangkau ATS
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen meluncurkan SPMB Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2026.
Program ini dirancang sebagai layanan pendidikan yang lebih fleksibel bagi anak-anak yang mengalami hambatan untuk mengikuti pendidikan secara reguler.
Melalui PJJ, pemerintah berharap semakin banyak ATS dapat kembali mengikuti pembelajaran dan melanjutkan pendidikan hingga lulus.
Target ATS Nol pada 2045
Pemerintah menargetkan penurunan jumlah Anak Tidak Sekolah secara drastis hingga tahun 2045.
“Tentu di 2045 kita berharap angka ATS ini menurun drastis. Kalau bisa, nol (jumlah ATS),” kata Fajar.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia.
Dilaksanakan di 32 Provinsi
Program SPMB PJJ akan dilaksanakan di:
- 32 provinsi.
- Melibatkan 132 sekolah jenjang SMA.
Program ini secara khusus menyasar sekitar 2,4 juta Anak Tidak Sekolah usia 16–18 tahun yang menghadapi berbagai hambatan untuk mengakses pendidikan.
SPMB PJJ dirancang sebagai gerakan nasional untuk mengembalikan ATS ke dunia pendidikan melalui layanan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Keberhasilan Diukur dari Kelulusan
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang mendaftar.
Menurutnya, indikator utama adalah kemampuan peserta untuk bertahan hingga menyelesaikan pendidikan.
“Target akhir dari SPMB PJJ ini adalah bukan hanya banyaknya pendaftar atau anak yang kembali aktif belajar, melainkan seberapa banyak anak yang mampu bertahan dan lulus,” ujar Tatang Muttaqin.
Membangun Akses Pendidikan yang Lebih Inklusif
Peluncuran SPMB PJJ menjadi salah satu langkah strategis Kemendikdasmen dalam menekan angka Anak Tidak Sekolah sekaligus memperluas akses pendidikan menengah di Indonesia. Dengan dukungan pembelajaran yang lebih fleksibel, pemerintah berharap semakin banyak anak dapat kembali belajar, menyelesaikan pendidikannya, dan memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk meraih masa depan.









