Di tengah situasi keamanan yang rawan, kontak tembak yang kerap terjadi, teror pada malam hari, hingga pengalaman pahit menyaksikan sekolah dibakar, seorang guru asal Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Jofrito memilih bertahan dan melanjutkan pengabdiannya di wilayah pedalaman Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Keputusan itu diambil bukan tanpa risiko, namun dilandasi komitmen kuat untuk memastikan anak-anak di daerah tersebut tetap memperoleh hak atas pendidikan.
Jofrito telah mengajar di Lanny Jaya selama beberapa tahun terakhir. Dalam kesehariannya, ia tak hanya berperan sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Kondisi keamanan yang tidak menentu membuat aktivitas belajar mengajar kerap terganggu. Suara tembakan, ancaman kelompok bersenjata, hingga teror pada malam hari menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi guru dan warga.
Situasi semakin berat ketika sekolah tempat Jofrito mengajar sempat dibakar. Peristiwa itu memaksa kegiatan belajar dihentikan sementara dan membuat banyak tenaga pendidik memilih meninggalkan daerah tersebut demi keselamatan. Namun, Jofrito mengambil jalan berbeda. Ia memilih tetap tinggal dan membangun kembali kepercayaan murid serta warga sekitar.
Alih-alih hanya fokus pada pembelajaran formal, Jofrito menggunakan pendekatan sosial sebagai kunci pengabdiannya. Ia menjalin komunikasi intens dengan tokoh adat, orang tua murid, dan pemuda kampung. Kelas tidak selalu berlangsung di bangunan sekolah, tetapi juga di rumah warga atau ruang terbuka di kampung. Bagi Jofrito, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya setempat.
Pendekatan tersebut perlahan membuahkan hasil. Anak-anak kembali berani datang belajar, dan masyarakat semakin terbuka mendukung kegiatan pendidikan. Jofrito memandang kampung dan kelas sebagai satu kesatuan ruang pengabdian, tempat ia tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, toleransi, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Kisah Jofrito menjadi potret nyata perjuangan guru di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Di tengah keterbatasan fasilitas dan ancaman keselamatan, dedikasinya menunjukkan bahwa pendidikan tetap bisa tumbuh ketika ada keberanian, ketulusan, dan kepedulian untuk melayani.





































