Siapa sangka tutup botol dan sampah plastik yang kerap dianggap tak bernilai justru bisa menjadi jembatan pendidikan. Di tangan Romo Chris bersama mahasiswa Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Cikarang, limbah plastik diolah menjadi karya seni bernilai tinggi yang hasil penjualannya dimanfaatkan untuk mendukung beasiswa mahasiswa.
Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan sekaligus semangat kemanusiaan, Romo Chris menggagas sebuah gerakan kreatif yang mengajak mahasiswa untuk mengumpulkan, memilah, dan mengolah sampah plastik. Tutup botol, kemasan plastik, dan limbah sejenis yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini disulap menjadi karya seni, instalasi, hingga produk kreatif yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
Proses pengolahan dilakukan bersama mahasiswa ATMI Cikarang sebagai bagian dari pembelajaran karakter, kreativitas, dan kepedulian sosial. Para mahasiswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga diajak memahami bahwa inovasi dapat lahir dari hal-hal sederhana yang sering diabaikan.
Hasil karya tersebut kemudian dipamerkan dan dijual kepada masyarakat. Dana yang terkumpul seluruhnya dialokasikan untuk mendukung program beasiswa mahasiswa, khususnya bagi mereka yang membutuhkan bantuan finansial untuk melanjutkan pendidikan. Dengan cara ini, sampah plastik tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menjadi sarana nyata membuka akses pendidikan.
Romo Chris menilai gerakan ini sebagai wujud pendidikan holistik, yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga nilai kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Ia berharap mahasiswa mampu melihat persoalan lingkungan sebagai peluang untuk berbuat kebaikan dan menghadirkan solusi yang berdampak luas.
Di sisi lain, mahasiswa ATMI Cikarang mengaku terinspirasi oleh pendekatan tersebut. Mereka merasakan langsung bahwa tindakan kecil, seperti mengolah sampah, dapat memberi manfaat besar bagi keberlanjutan lingkungan dan masa depan pendidikan teman-teman mereka.
Gerakan ini menjadi bukti bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan misi kemanusiaan. Dari sampah plastik yang sering dianggap tak berguna, lahir harapan baru bagi mahasiswa untuk terus menempuh pendidikan dan bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola lingkungan.





































