Kompleks Candi Prambanan selama ini dikenal dunia sebagai ikon warisan budaya dengan kemegahan Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Namun, di balik popularitas tiga candi utama tersebut, kawasan Prambanan ternyata menyimpan puluhan situs cagar budaya lain yang tersebar luas di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Kawasan Prambanan bahkan kerap disebut sebagai salah satu lanskap arkeologi terpadat di Pulau Jawa. Dalam satu wilayah kecamatan saja, jejak peradaban Hindu dan Buddha dari abad ke-8 hingga ke-10 Masehi dapat ditemukan di berbagai sudut, mulai dari desa-desa, area persawahan, hingga pekarangan rumah warga. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Prambanan pada masa lalu merupakan pusat aktivitas keagamaan, sosial, dan budaya yang sangat penting.
Selain candi-candi besar yang telah direstorasi dan dikelola sebagai destinasi wisata, terdapat pula banyak candi skala kecil atau yang kerap disebut sebagai “candi marjinal”. Situs-situs ini sebagian hanya tersisa berupa pondasi, struktur batu, atau artefak yang terkubur di dalam tanah. Meski minim sorotan, keberadaannya memiliki nilai sejarah dan arkeologis yang tak kalah penting dalam memahami lanskap peradaban Jawa kuno.
Jejak situs-situs tersembunyi tersebut sempat diangkat melalui sebuah proyek jurnalistik bertajuk Nyariwatu yang digagas Redaktur Jawa Pos Radar Solo, Nikko Auglandy, beberapa tahun lalu. Melalui proyek tersebut, Nikko dan tim menelusuri berbagai situs kuno di Pulau Jawa, termasuk kawasan Prambanan, untuk mendokumentasikan keberadaan candi-candi kecil dan sisa peninggalan arkeologi yang jarang tersentuh perhatian publik.
Hasil penelusuran Nyariwatu mengungkap bahwa di sekitar Prambanan masih banyak ditemukan sisa bangunan candi, arca, hingga struktur batu yang mengindikasikan keberadaan kompleks keagamaan yang luas pada masa lalu. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa Prambanan bukan sekadar satu kompleks candi, melainkan bagian dari jaringan situs peradaban yang saling terhubung.
Para arkeolog menilai, pelestarian situs-situs marjinal tersebut menjadi tantangan tersendiri. Selain keterbatasan data dan anggaran, banyak situs berada di lahan milik warga, sehingga membutuhkan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Kesadaran publik terhadap nilai sejarah di sekitar tempat tinggal mereka pun menjadi kunci utama dalam upaya perlindungan warisan budaya ini.
Dengan kekayaan situs yang dimilikinya, kawasan Prambanan tidak hanya menawarkan daya tarik wisata, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai laboratorium sejarah terbuka. Ke depan, pengelolaan yang terpadu diharapkan mampu menjadikan lanskap Prambanan sebagai pusat edukasi arkeologi sekaligus menjaga warisan peradaban Nusantara agar tetap lestari bagi generasi mendatang.





































