Generasi Alpha kini tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak-anak yang lahir setelah 2010 ini semakin akrab dengan kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang lebih sering bertanya kepada AI dibandingkan kepada orang tua saat ingin mengetahui sesuatu.
Fenomena ini memunculkan dua sisi yang sama kuatnya. Di satu sisi, penggunaan AI dapat mendorong anak menjadi lebih kritis dan mandiri. Informasi yang cepat dan beragam membuat mereka terbiasa mencari jawaban sendiri, mengeksplorasi rasa ingin tahu, serta belajar secara lebih fleksibel. Anak dapat memperoleh penjelasan tambahan tentang pelajaran sekolah, ide kreatif, hingga solusi sederhana atas persoalan yang mereka hadapi.
Namun di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada AI juga berpotensi menimbulkan dampak kurang baik. Interaksi yang terlalu sering dengan mesin bisa mengurangi intensitas komunikasi anak dengan orang tua maupun lingkungan sekitarnya. Jika tidak diimbangi dengan pendampingan, anak bisa kehilangan kesempatan belajar empati, memahami ekspresi emosi, serta mengasah kemampuan berpikir kritis secara mendalam. Jawaban instan dari AI dikhawatirkan membuat anak kurang terbiasa menganalisis, mempertanyakan kembali, atau memverifikasi informasi.
Para pemerhati pendidikan menilai, kunci utama menghadapi perubahan ini bukanlah melarang penggunaan AI, melainkan mendampingi anak dalam memanfaatkannya. Orang tua perlu hadir sebagai mitra diskusi, bukan sekadar pemberi larangan. Ketika anak bertanya pada AI, orang tua dapat ikut mengajak berdialog: apakah jawabannya masuk akal, dari mana sumbernya, dan bagaimana cara mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
Pendampingan ini juga menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai empati dan etika digital. Anak perlu diajarkan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti relasi manusia. Interaksi dengan keluarga, teman, dan guru tetap menjadi fondasi utama dalam membangun karakter.
Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat tanpa menggerus kemampuan sosial dan emosional anak. Tantangan era digital bukan lagi soal membatasi akses, melainkan memastikan anak tumbuh seimbang—cerdas secara intelektual, kuat secara emosional, dan bijak dalam menggunakan teknologi.




































