Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menilai digitalisasi layanan publik melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dapat membantu menekan biaya pendidikan yang ditanggung masyarakat.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Dukcapil, Senin (3/8/2026), Tito menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan implementasi SPBE yang akan mengintegrasikan berbagai layanan publik dalam satu portal digital yang terhubung dengan Satu Data Indonesia dan data kependudukan Dukcapil.
“Ini kalau dikerjakan dan betul terjadi, itu luar biasa. Ditambah lagi dengan satu lagi, yaitu Satu Data Indonesia,” kata Tito.
Menurutnya, ke depan masyarakat tidak perlu lagi datang ke kantor pemerintah atau sekolah untuk mengurus berbagai layanan, termasuk pendaftaran peserta didik.
“Ke depan kita tidak. Kita lebih mau menginjak lebih maju lagi. Orangnya enggak usah datang, tapi menggunakan digitalisasi. Masuk ke dalam aplikasi,” ujarnya.
Tito juga membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan doktoral di Singapura. Selama empat tahun tinggal di sana, ia cukup memasukkan data ketiga anaknya melalui portal Kementerian Pendidikan Singapura menggunakan Foreign Identity Number (FIN). Beberapa hari kemudian, pemberitahuan sekolah dikirim melalui email tanpa perlu mendatangi sekolah satu per satu.
“Saya tidak perlu datang ke kantor, ke sekolah-sekolah satu-satu, mana yang buka, mana yang terima, mana yang tidak. Saya cukup masuk ke sistemnya,” kata Tito.
Menurutnya, sistem tersebut juga membantu menghemat biaya pendidikan. Selain biaya sekolah yang relatif lebih rendah, anak-anaknya bersekolah di lokasi yang dekat dengan rumah sehingga cukup berjalan kaki sekitar lima hingga tujuh menit. Hal itu dimungkinkan karena kualitas sekolah dasar di Singapura dinilai relatif merata.
“Begitu standar semua, makanya menggunakan sistem zonasi. Kita dipilihkan sekolah yang terdekat dari rumah,” ujarnya.
Digitalisasi memang bukan solusi untuk seluruh persoalan pendidikan. Namun jika diterapkan secara terintegrasi, transparan, dan didukung pemerataan kualitas sekolah, teknologi berpotensi membuat layanan pendidikan menjadi lebih mudah diakses, efisien, dan hemat biaya bagi masyarakat.









