Jakarta – Dunia pendidikan kembali mencatat sejarah baru. Nathan Thomas berhasil menjadi profesor termuda sepanjang sejarah setelah resmi mengajar di usia 18 tahun 346 hari, sebuah pencapaian yang membuat namanya masuk dalam Guinness World Records (GWR).
Rekor tersebut diraih Nathan pada tahun 2023 dan mematahkan rekor yang telah bertahan selama lebih dari tiga abad.
Sebelumnya, gelar profesor termuda laki-laki dipegang oleh Colin Maclaurin, yang menjadi profesor pada usia 19 tahun pada 1717. Nathan juga berhasil melampaui rekor Alia Sabur, profesor perempuan termuda yang meraih gelar tersebut pada usia 18 tahun 362 hari.
Kini, Nathan mengajar sebagai profesor di Miami Dade College, Amerika Serikat.
Masuk Kuliah Sejak Usia 10 Tahun
Perjalanan Nathan menuju dunia akademik dimulai jauh lebih awal dibandingkan anak seusianya.
Saat baru berusia 10 tahun, ia telah mengikuti program kuliah ganda di Miami Dade College.
Empat tahun kemudian, Nathan melanjutkan pendidikannya di Florida International University. Ketika remaja seusianya masih duduk di bangku sekolah menengah, Nathan berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
Pada usia 18 tahun, ia telah meraih gelar Sarjana dan Magister Teknik Elektro dengan predikat Cum Laude.
Mengajar Mahasiswa Seusianya
Setelah lulus, Nathan kembali ke Miami Dade College.
Pada Agustus 2023, ia mulai mengajar mata kuliah COP 2270:C untuk Insinyur, yang membahas komputasi dan pemrograman.
Meski banyak mahasiswanya memiliki usia yang hampir sama dengannya, Nathan tidak merasa canggung.
“Saya hanya fokus untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik dan membantu siswa dengan cara apa pun yang saya bisa. Jika seseorang bersedia berusaha, itu yang benar-benar penting bagi saya,” ujarnya.
Bagi Nathan, usia bukanlah ukuran kemampuan seseorang untuk mengajar maupun belajar.
Matematika Menjadi Kecintaan Sejak Kecil
Nathan dikenal sangat menyukai dunia belajar sejak kecil, terutama bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Di antara semua bidang tersebut, matematika menjadi mata pelajaran favoritnya.
Minat itu juga tumbuh dari lingkungan keluarganya. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai insinyur yang mendorongnya untuk berpikir logis dan kritis.
Nathan mengaku banyak belajar dari ibunya yang mampu menjelaskan konsep rumit dengan cara sederhana.
“Ibu saya punya cara membuat segala sesuatu terasa sederhana meskipun sebenarnya tidak,” ungkapnya.
Masih Terus Belajar
Meski telah menjadi profesor termuda dunia, Nathan belum berhenti belajar.
Saat ini, di usia 21 tahun, ia sedang menempuh program Juris Doctor di University of Miami School of Law dan ditargetkan lulus pada tahun 2028.
Ke depan, ia bercita-cita berkarier di bidang hukum kekayaan intelektual dengan fokus pada bidang STEM.
Pesan untuk Generasi Muda
Nathan percaya setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Menurutnya, tidak perlu terburu-buru mengejar pencapaian orang lain.
Yang terpenting adalah menemukan bidang yang benar-benar disukai dan terus berusaha secara konsisten.
“Lebih baik mencari tahu apa yang benar-benar cocok untuk Anda dan tetap berpegang pada hal itu. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi saya percaya hasilnya akan datang jika Anda terus hadir dan berusaha keras,” pesannya.
Kisah Nathan Thomas membuktikan bahwa usia bukanlah batas untuk meraih prestasi. Dengan rasa ingin tahu, kerja keras, dan semangat belajar yang tinggi, seseorang mampu menciptakan sejarah bahkan di usia yang sangat muda.




