Jakarta – Mendapatkan satu Letter of Acceptance (LoA) dari universitas luar negeri sudah menjadi pencapaian tersendiri. Namun, Clarissa Aurelia Nahid Saputra berhasil memperoleh 14 LoA dari berbagai kampus ternama dunia, di antaranya National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC), University of Edinburgh, King’s College London, hingga University of California San Diego (UCSD).
Kini, Clarissa memilih melanjutkan pendidikan di UC San Diego di Amerika Serikat. Selain berkuliah, ia juga telah membangun startup Clean AI Labs di Silicon Valley.
Lantas, bagaimana cara Clarissa membangun portofolio hingga berhasil diterima di berbagai kampus top dunia?
1. Isi Portofolio dengan Passion yang Terukur
Menurut Clarissa, portofolio yang kuat tidak harus dipenuhi dengan sebanyak mungkin aktivitas. Justru, calon mahasiswa sebaiknya menunjukkan minat yang jelas dan prestasi yang dapat diukur.
Saat SMA, Clarissa pernah menjadi Wakil Ketua OSIS dan meraih Honorable Mention di International Physics Olympiad (IPhO).
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari portofolionya ketika mendaftar ke universitas luar negeri.
Ia menyarankan pelajar memilih kegiatan yang benar-benar disukai dan ditekuni daripada mengikuti banyak aktivitas tanpa arah yang jelas.
2. Lebih Baik Fokus pada Sedikit Keahlian
Clarissa juga mengingatkan pelajar agar tidak terjebak dalam keinginan memasukkan sebanyak mungkin kegiatan ke dalam portofolio.
Menurutnya, kedalaman keahlian lebih penting daripada sekadar banyaknya aktivitas.
Ia membandingkan manfaat berfokus pada dua bidang yang benar-benar dikuasai dengan mencoba mengerjakan sepuluh hal sekaligus.
Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya mencari satu atau dua bidang yang menjadi kekuatan utama, kemudian membangun rekam jejak yang konsisten di bidang tersebut.
3. Pilih Kampus Sesuai Cita-Cita Karier
Mendapatkan banyak LoA memang membanggakan, tetapi Clarissa menilai keputusan memilih kampus seharusnya tidak hanya berdasarkan reputasi universitas.
Calon mahasiswa perlu melihat apakah program studi, fasilitas, lingkungan, dan lokasi kampus sesuai dengan tujuan karier jangka panjang.
Clarissa sendiri memilih UCSD karena memiliki kekuatan di bidang robotik. Lokasinya di California yang dekat dengan ekosistem startup San Francisco juga menjadi pertimbangan penting baginya.
Dengan demikian, kampus terbaik bukan selalu kampus yang memiliki peringkat paling tinggi, tetapi kampus yang paling sesuai dengan arah masa depan mahasiswa.
4. Bangun Personal Branding
Tips terakhir yang diberikan Clarissa adalah membangun personal branding.
Menurutnya, portofolio bukan sekadar kumpulan sertifikat, penghargaan, atau daftar kegiatan. Portofolio harus mampu menceritakan siapa diri seseorang, apa yang menjadi keunggulannya, dan dampak apa yang telah diberikan.
Karena itu, pelajar perlu berani menunjukkan karya dan pengalaman mereka secara positif. Personal branding yang kuat dapat membantu pihak universitas memahami karakter dan potensi calon mahasiswa secara lebih utuh.
Portofolio Bukan Sekadar Banyak Prestasi
Pengalaman Clarissa menunjukkan bahwa masuk universitas top dunia tidak hanya bergantung pada banyaknya sertifikat atau kegiatan yang diikuti.
Konsistensi, kedalaman keahlian, prestasi yang relevan, tujuan karier, dan kemampuan menceritakan perjalanan diri menjadi bagian penting dalam membangun portofolio.
Bagi pelajar yang ingin kuliah di luar negeri, mulai membangun portofolio sejak SMA dapat menjadi langkah strategis. Pilih bidang yang benar-benar diminati, tekuni secara konsisten, dan dokumentasikan setiap pencapaian maupun karya yang dihasilkan.
Kisah Clarissa membuktikan bahwa portofolio yang kuat bukan tentang melakukan semuanya, melainkan tentang menunjukkan dengan jelas apa yang benar-benar dikuasai dan bagaimana seseorang memberikan dampak.










