Proses Belajar Tak Boleh Terhenti, Pemerintah Diminta Inventarisasi Kerusakan Sekolah dan Siapkan Tenda Belajar
Jakarta, 22 Agustus 2026 — Sekitar 400 sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Pemerintah diminta segera melakukan pendataan tingkat kerusakan sekaligus menyiapkan sekolah darurat agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti terlalu lama.
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani mengatakan data sekolah terdampak tersebut diperoleh dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta pemerintah daerah.
“Per hari ini kami sudah menerima data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tentunya serta dari Pemerintah Daerah kurang lebih sekolah yang terdampak itu 400 sekolah kurang lebih per hari ini,” kata Lalu di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, jumlah tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan. Karena itu, DPR meminta sekolah terdampak segera diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakannya, mulai dari rusak ringan, sedang hingga berat.
Sekolah Rusak Segera Diinventarisasi
Lalu mengatakan pemerintah perlu mempercepat proses inventarisasi untuk menentukan sekolah yang masih dapat digunakan dan sekolah yang membutuhkan rehabilitasi atau pembangunan kembali.
“Upaya yang dilakukan hari ini selain memutakhirkan data, tentu langkah-langkah cepat dalam rangka merevitalisasi bahkan membangun kembali bangunan-bangunan yang tergolong bangunan sekolah ini yang tergolong rusak berat itu terus dilakukan,” tuturnya.
Pendataan juga tidak hanya menyangkut kondisi bangunan sekolah. Pemerintah diminta menginventarisasi guru, siswa, dan tenaga kependidikan yang turut terdampak bencana.
“Kemudian di samping melihat bangunan sekolah, kami juga meminta untuk menginventarisir guru, siswa, dan tenaga pendidik lainnya yang terdampak akibat gempa,” ujar Lalu.
Belajar Bisa Dialihkan ke Sekolah Darurat
DPR menekankan proses pembelajaran harus tetap berjalan meskipun kondisi sekolah terdampak bencana.
Lalu mendorong pemerintah pusat dan daerah menyiapkan alternatif tempat belajar, termasuk menggunakan sekolah darurat.
“Nah jumlah sekolah daruratnya ya tentu menyesuaikan. Kalau ternyata sekolah existing-nya masih bisa dilakukan ya tentu diinventarisir, tetapi lagi-lagi bahwa kami menyarankan agar belajar di sekolah darurat terlebih dahulu,” katanya.
Sekolah darurat dapat berupa tenda maupun pemanfaatan sekolah lain yang tidak terdampak gempa.
“Apakah nanti disiapkan berupa tenda atau ditempatkan di sekolah yang memang tidak terdampak oleh gempa tersebut,” lanjutnya.
Gempa Juga Berdampak hingga NTB
Dampak gempa tidak hanya dirasakan di wilayah NTT. Sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Bima dan Kota Bima, juga terdampak.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu melakukan pendataan lintas wilayah agar penanganan terhadap sektor pendidikan dapat dilakukan secara menyeluruh.
70 Orang Meninggal Dunia
Sementara itu, korban meninggal akibat gempa M7,7 di NTT tercatat mencapai 70 orang hingga hari keempat penanganan bencana.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo mengatakan berdasarkan data yang dikompilasi hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA, terdapat 202 korban, terdiri atas 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka.
Dari korban luka tersebut, 40 orang mengalami luka berat dan 92 orang luka ringan.
Memasuki hari keempat, Basarnas menyatakan tidak lagi menerima laporan warga yang masih dalam pencarian. Tim SAR kemudian memfokuskan kegiatan pada penyisiran wilayah terdampak serta mendukung proses pemulihan yang dilakukan BNPB.
Lebih dari 40 Ribu Warga Mengungsi
Bencana tersebut juga menyebabkan 40.040 warga mengungsi. Selain itu, sebanyak 11.925 rumah mengalami kerusakan.
Pengungsi tersebar di sejumlah wilayah terdampak, antara lain:
- Kabupaten Manggarai: 6.487 orang
- Manggarai Timur: 966 orang di posko BPBD dan sekitar 14.000 orang mengungsi secara mandiri
- Manggarai Barat: 600 orang
- Nagekeo: 6.221 orang
- Sikka: 5.681 orang
- Ende: 3.666 orang
- Ngada: 1.920 orang
BNPB mencatat kerusakan rumah terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan.
Daerah dengan kerusakan rumah paling tinggi antara lain Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada.
Pendidikan Harus Tetap Berjalan
Dampak gempa terhadap ratusan sekolah menunjukkan pentingnya penanganan sektor pendidikan dalam situasi bencana. Selain memastikan bangunan yang rusak segera diperbaiki, pemerintah perlu menjamin siswa tetap memiliki tempat yang aman untuk belajar.
Sekolah darurat menjadi salah satu solusi sementara sampai bangunan sekolah yang rusak dapat diperbaiki atau dibangun kembali.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah anak-anak kehilangan hak memperoleh pendidikan sekaligus memberikan ruang belajar yang aman selama proses pemulihan pascabencana berlangsung.




