Jakarta – Kulit semangka yang selama ini sering langsung dibuang ternyata berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Guru Besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Budi S. Daryono, menjelaskan bahwa bagian rind atau kulit semangka memiliki sejumlah kandungan nutrisi dan dapat diolah menjadi makanan.
Namun, bukan berarti kulit semangka bisa langsung dimakan begitu saja. Jenis semangka, cara budidaya, kebersihan, pencucian, hingga pengolahannya perlu diperhatikan.
Kulit Semangka Mengandung Nutrisi
Berdasarkan data USDA yang dikutip dalam penjelasan Prof. Budi, setiap 50 gram kulit semangka mentah mengandung sekitar:
- 10 kalori
- 1 gram serat pangan
- 140 miligram kalium
- 4 miligram vitamin C.
Kulit dan daging semangka juga memiliki perbedaan kandungan senyawa bioaktif, termasuk citrulline dan senyawa fenolik. Perbedaan tersebut berkaitan dengan struktur dan fungsi jaringan masing-masing bagian buah.
Tidak Semua Kulit Semangka Sama
Prof. Budi mengingatkan bahwa karakter kulit semangka dapat berbeda berdasarkan varietas atau kultivarnya.
Penelitian terhadap enam kultivar komersial menunjukkan adanya variasi kandungan gula, protein, serat, senyawa fenolik, hingga aktivitas antioksidan pada kulit semangka.
Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai kulit semangka tidak cukup hanya berhenti pada pertanyaan apakah bagian tersebut bisa dimakan. Jenis semangka dan bagaimana buah tersebut diproduksi juga perlu diperhatikan.
Waspadai Residu Pestisida
Hal yang tidak kalah penting adalah keamanan pangan.
Kulit merupakan bagian terluar buah yang bersentuhan langsung dengan lingkungan. Residu pestisida dari proses budidaya berpotensi berada pada permukaan maupun bagian jaringan buah.
Karena itu, kulit semangka yang akan dimanfaatkan sebagai makanan harus mendapatkan penanganan pascapanen, pencucian, dan pengolahan yang tepat.
Jadi, jangan langsung mengambil kulit semangka yang sudah dibuang lalu mengolahnya tanpa mengetahui asal dan cara penanganannya.
Bisa Diolah Menjadi Manisan dan Acar
Pemanfaatan kulit semangka sebagai makanan sebenarnya bukan hal baru. Di sejumlah negara, bagian tersebut telah diolah menjadi manisan maupun acar (pickle).
Pengolahan ini menjadi bagian dari konsep whole-fruit utilization, yakni memanfaatkan sebanyak mungkin bagian dari satu buah sesuai karakter dan potensinya sehingga limbah pangan dapat dikurangi.
Di Indonesia sendiri, kulit semangka lebih sering dianggap sebagai limbah. Padahal, jika diolah dengan tepat, bagian tersebut berpotensi menjadi produk pangan bernilai tambah.
Bukan Sekadar Bisa Dimakan
Menurut Prof. Budi, tantangan ke depan bukan hanya membuktikan bahwa kulit semangka dapat dikonsumsi.
Yang lebih penting adalah mengembangkan pemanfaatannya menjadi produk yang aman, bernilai tambah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Artinya, penelitian mengenai kulit semangka masih dapat dikembangkan lebih jauh, baik dari sisi pangan, gizi, pengolahan, maupun pemanfaatan limbah.
Jadi, kulit semangka memang berpotensi dimakan, tetapi jangan asal konsumsi. Pastikan buah berasal dari sumber yang aman, dicuci dengan baik, dan diolah secara tepat sebelum dikonsumsi.




















