Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga menciptakan peluang baru di pasar tenaga kerja. Survei LinkedIn terbaru menunjukkan sejumlah pekerjaan di bidang AI mengalami pertumbuhan pesat dan banyak diminati pekerja muda, termasuk Gen Z dan milenial.
Survei yang diterbitkan pada pertengahan Agustus 2026 tersebut mengidentifikasi 12 pekerjaan bidang AI dengan pertumbuhan tercepat. Data dianalisis berdasarkan usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan para pekerja yang direkrut.
2 Pekerjaan AI yang Banyak Diminati
Dari berbagai posisi yang berkembang, dua pekerjaan yang banyak diminati pekerja muda adalah insinyur yang ditempatkan di lapangan dan insinyur AI.
Menariknya, kedua profesi tersebut menawarkan pendapatan yang tergolong tinggi.
- Field engineer: rata-rata gaji tahunan sekitar US$199.000 atau sekitar Rp3,5 miliar.
- AI engineer: rata-rata gaji tahunan sekitar US$166.000 atau sekitar Rp2,9 miliar.
Perhitungan tersebut menggunakan kurs sekitar Rp17.720 per dolar AS.
Sementara itu, untuk posisi kepala AI (Head of AI), generasi milenial mencakup sekitar 60 persen dari perekrutan baru. Posisi tersebut memiliki rata-rata gaji tahunan sekitar US$236.000 atau Rp4,1 miliar.
Lowongan AI Tumbuh Pesat
Peluang kerja di sektor AI juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Menurut data LinkedIn, jumlah lowongan pekerjaan AI di platform tersebut meningkat 14 persen antara 2023 dan 2024. Pertumbuhan kemudian melonjak hingga 156 persen antara 2024 dan 2025.
Fenomena ini menjadi menarik karena pada saat yang sama banyak pekerja muda menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif, khususnya untuk posisi tingkat pemula.
Perkembangan AI justru membuka ruang baru bagi mereka yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan teknologi tersebut.
Mengapa Gaji Pekerja AI Tinggi?
Kepala Ekonomi LinkedIn Kory Kantenga menjelaskan bahwa perusahaan saat ini berlomba meningkatkan kemampuan teknologi dan melakukan investasi besar di bidang AI.
Besarnya investasi tersebut turut mendorong perusahaan menawarkan kompensasi tinggi untuk mendapatkan tenaga kerja dengan keahlian yang dibutuhkan.
Faktor pendidikan juga berperan. Sekitar 91 persen pekerja di bidang AI memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi.
Pada posisi yang lebih senior, tingkat pendidikan cenderung semakin tinggi. Hampir separuh pekerja yang direkrut untuk posisi kepala AI memiliki gelar pascasarjana, sementara sekitar 20 persen memiliki gelar doktor.
Skill Apa yang Dibutuhkan?
Bagi mahasiswa dan pekerja muda yang ingin masuk ke bidang AI, kemampuan ilmu komputer menjadi salah satu fondasi penting.
Namun, kemampuan teori saja belum cukup. Kandidat juga perlu memahami data, termasuk bagaimana mempersiapkan, mengolah, dan menggunakannya secara efektif dalam pengembangan sistem AI.
Bagi mereka yang belum memiliki pengalaman profesional, salah satu cara membangun kompetensi adalah mengerjakan proyek AI secara mandiri.
Proyek tersebut dapat menjadi bagian dari portofolio untuk menunjukkan kemampuan teknis sekaligus pengalaman menerapkan ilmu dalam persoalan nyata.
Peluang Besar, tetapi Ada Tantangan
Pertumbuhan pekerjaan AI memang membuka peluang dengan gaji tinggi. Namun, kondisi ini juga berpotensi memperlebar kesenjangan pendapatan antara pekerja yang memiliki keterampilan teknologi tinggi dan mereka yang belum memiliki akses atau kemampuan untuk masuk ke sektor tersebut.
Karena itu, peningkatan keterampilan digital dan akses terhadap pendidikan teknologi menjadi semakin penting.
Bagi Gen Z dan milenial, perkembangan AI bukan hanya ancaman terhadap pekerjaan lama, tetapi juga membuka profesi baru dengan prospek yang menarik. Mereka yang mulai membangun kemampuan komputer, data, dan AI sejak sekarang berpeluang lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja.





