Jakarta, 31 Agustus 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan setelah gempa bumi melanda sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pemulihan dilakukan melalui berbagai langkah tanggap darurat sekaligus melibatkan perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari semangat partisipasi semesta untuk memastikan kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan.
1.918 Satuan Pendidikan Terdampak Gempa
Berdasarkan data per 23 Agustus 2026, gempa bumi berdampak terhadap 1.918 satuan pendidikan yang tersebar di tujuh kabupaten dan 97 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 665 sekolah mengalami kerusakan berat. Kerusakan juga terjadi pada 6.927 ruang kelas. Dampaknya, sebanyak 141.207 murid terpaksa berhenti belajar, sementara 48.164 warga sekolah harus mengungsi.
Kebutuhan ruang kelas darurat juga masih cukup besar. Sebanyak 785 sekolah mengusulkan pembangunan 2.908 unit Ruang Kelas Darurat (RKD).
Kemendikdasmen menyebut kerusakan paling banyak terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai dengan 381 sekolah dan 1.887 ruang kelas mengalami kerusakan. Selanjutnya terdapat kerusakan di Nagekeo dan Manggarai Timur.
Akibat kondisi tersebut, sebanyak 1.221 sekolah diliburkan. Hingga akhir Agustus, baru 37 sekolah yang menjalankan pembelajaran darurat dan 295 sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh.
Sementara itu, sebanyak 1.568 sekolah terdampak masih belum tertangani.
Kemendikdasmen Bangun Ruang Kelas Darurat
Dalam dua minggu pertama setelah bencana, Kemendikdasmen melakukan sejumlah langkah tanggap darurat.
Di antaranya melengkapi pendataan kebutuhan 306 sekolah, membuka akses menuju 22 sekolah yang sebelumnya belum terjangkau, serta mendirikan ruang kelas darurat pada 10 sekolah prioritas.
Kemendikdasmen juga menyalurkan school kit dan family kit tahap pertama serta melakukan verifikasi terhadap 630 sekolah yang memiliki perbedaan kategori kerusakan.
Hingga Minggu, 30 Agustus 2026, sebanyak 89 tenda telah dipasang untuk memenuhi kebutuhan ruang kelas darurat. Sementara sembilan tenda masih dalam proses pengiriman dari Pos Logistik Pendidikan Manggarai Timur dan dua tenda lainnya dikirim dari Pos Logistik Labuan Bajo.
Mahasiswa Ikut Dampingi Murid Korban Gempa
Pemulihan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali fasilitas sekolah. Kondisi psikologis murid dan warga sekolah juga menjadi perhatian.
Pada fase transisi pembelajaran, Kemendikdasmen melibatkan mahasiswa untuk memberikan pendampingan kepada para korban bencana.
Salah satunya dilakukan melalui Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) Universitas Diponegoro (Undip). Tim tersebut memberikan pendampingan psikososial kepada korban gempa di Kabupaten Ngada pada 28 Agustus 2026.
Pendampingan berikutnya dilakukan di SD Woe Natarandang, Bejawa, pada 30 Agustus 2026.
Kegiatan psikososial tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan motivasi murid agar kembali belajar setelah aktivitas pendidikan mereka sempat terhenti akibat bencana.
Perbaikan Sekolah Dilanjutkan hingga Tiga Bulan
Pada masa transisi pembelajaran yang berlangsung sekitar dua minggu hingga tiga bulan ke depan, Kemendikdasmen juga menyiapkan sejumlah langkah pemulihan.
Perbaikan sanitasi dan asesmen teknis kerusakan akan dilakukan dengan melibatkan tim ahli bangunan.
Kerusakan akibat gempa diketahui tidak hanya terjadi pada ruang kelas. Berdasarkan data Tim Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), terdapat 418 laboratorium, 1.928 toilet, dan 370 rumah dinas guru yang turut mengalami kerusakan.
Yayasan Plan Indonesia Salurkan Bantuan
Semangat gotong royong juga datang dari berbagai organisasi kemanusiaan. Salah satunya adalah Yayasan Plan Indonesia yang memberikan bantuan berupa terpal dan kebutuhan logistik bagi masyarakat terdampak.
Plan Indonesia juga mendistribusikan sekitar 300 ribu liter air melalui layanan water trucking, terutama untuk masyarakat di wilayah Lambaleda Utara, Manggarai Timur.
Selain bantuan kebutuhan dasar, organisasi tersebut turut melakukan pengecekan kesehatan bagi para penyintas.
Untuk mendukung keberlanjutan pendidikan, Plan Indonesia juga mulai membangun ruang belajar sementara di wilayah Nagekeo. Dalam waktu dekat, akan dilakukan pelatihan mengenai pendidikan dalam situasi darurat.
Abdul Mu’ti: Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa bencana Flores menjadi pengingat bahwa pemulihan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat menunjukkan bahwa pemulihan tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah.
Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah bergerak membantu pemulihan pendidikan bagi masyarakat Flores.
Semangat partisipasi semesta diharapkan dapat mempercepat pemulihan layanan pendidikan sekaligus membantu murid kembali mendapatkan haknya untuk belajar dengan aman dan layak.
Kesimpulan
Gempa bumi di Flores memberikan dampak besar terhadap dunia pendidikan, dengan 1.918 satuan pendidikan terdampak dan lebih dari 141 ribu murid mengalami penghentian pembelajaran.
Kemendikdasmen bersama berbagai pihak kini menjalankan pemulihan secara bertahap, mulai dari penyediaan ruang kelas darurat, bantuan perlengkapan, pembelajaran jarak jauh, pendampingan psikososial hingga perbaikan sarana sekolah.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat menjadi kunci agar pendidikan di wilayah terdampak dapat kembali berjalan dan murid Flores segera kembali belajar.



















