Sekitar 500 sekolah menengah atas di Prancis ditutup sebagian atau seluruhnya pada 5 Oktober 2026 akibat gelombang demonstrasi siswa. Menteri Pendidikan Prancis, Édouard Geffray, menyatakan penutupan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keamanan, sementara kegiatan belajar mengajar diharapkan kembali berjalan secara bertahap. <Cite refs={[“turn173844news0″,”turn173844search1”]}/>
Aksi protes dipicu oleh keluhan siswa mengenai kekurangan guru dan staf pendukung, jam pelajaran yang panjang, serta fasilitas sekolah yang rusak. Siswa juga menyoroti ruang kelas yang terlalu padat, keterbatasan kursi, toilet yang kurang memadai, dan kantin yang sempit. Data Kementerian Pendidikan Prancis menunjukkan hampir 10 persen jam pelajaran di sekolah menengah negeri tidak terlaksana selama tahun ajaran 2024–2025. <Cite refs={[“turn173844news0”]}/>
Demonstrasi bermula dari Lycée Saint-Exupéry di Créteil, dekat Paris, pada akhir September 2026. Aksi kemudian meluas ke berbagai wilayah di Prancis, termasuk Rennes, Nantes, Bordeaux, Marseille, Strasbourg, dan Lille. Dalam perkembangannya, sejumlah demonstrasi diwarnai bentrokan, kebakaran, serta kerusakan fasilitas. <Cite refs={[“turn173844news0″,”turn173844search2”]}/>
Pemerintah Prancis meminta siswa dan orang tua mengutamakan keselamatan serta menghindari aksi yang berujung kekerasan. Di sisi lain, demonstrasi ini menyoroti tuntutan pelajar terhadap perbaikan fasilitas, penambahan tenaga pengajar, dan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. <Cite refs={[“turn173844news0″,”turn173844search1”]}/>





