Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Asril Pramutadi Andi Mustari, S.Si., M.Eng., mengembangkan alat latihan sepak bola mandiri bernama Ar-kick. Inovasi ini memungkinkan pemain berlatih teknik dasar sepak bola tanpa harus selalu didampingi rekan latihan. Alat tersebut dirancang agar bola dapat kembali ke jangkauan pemain setelah ditendang sehingga latihan bisa dilakukan berulang kali. <Cite refs={[“turn994938news4”]}/>
Ar-kick dikenakan pada tubuh menggunakan pengikat atau harness di bagian dada yang terhubung dengan bola. Dengan mekanisme ini, pemain dapat melatih berbagai teknik, seperti passing, shooting, mengontrol bola menggunakan dada dan lutut, sundulan, hingga half-volley. Alat ini juga memungkinkan latihan dilakukan di tempat yang relatif terbatas.
Gagasan pengembangan Ar-kick berawal pada 2014 ketika Asril mengalami cedera bahu saat berada di Jepang. Ia terinspirasi dari alat medis penyangga tulang selangka yang kemudian dikembangkan menjadi perangkat latihan sepak bola. Proses pengembangan dan uji coba alat ini mulai dilakukan di Indonesia sekitar 2016. <Cite refs={[“turn994938news4”]}/>
Ar-kick dapat membantu pemain memperbanyak sentuhan dengan bola. Dalam latihan, pengguna dapat melakukan hingga sekitar 1.000 tendangan dalam 15 menit. Alat ini dinilai bermanfaat terutama bagi pemain usia dini dan siswa sekolah sepak bola karena mereka dapat berlatih secara mandiri, termasuk membiasakan penggunaan kaki non-dominan. Hingga kini, Ar-kick telah digunakan oleh lebih dari 2.000 pengguna.
Meski demikian, Ar-kick tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran pelatih atau latihan bersama tim. Inovasi ini menjadi perangkat pendukung untuk meningkatkan penguasaan teknik dasar. Pengembangannya juga menunjukkan potensi penerapan sport science dalam olahraga melalui kajian fisika, biomekanika, dan analisis gerakan untuk mendukung pembinaan sepak bola Indonesia. <Cite refs={[“turn994938news4”]}/>








