JAKARTA – Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., resmi menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Istana Negara, Jakarta. Ia dipercaya memimpin lembaga yang bertugas memperkuat perlindungan dan pemulihan ekosistem gambut serta mangrove di Indonesia. <Cite refs={[“turn445366news2″,”turn445366search14”]}/>
Satyawan merupakan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memiliki pengalaman panjang di bidang kehutanan, konservasi sumber daya alam, dan ekologi satwa liar. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) di Kementerian Kehutanan.
Riwayat Pendidikan Satyawan Pudyatmoko
Satyawan lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 9 Agustus 1971. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Kehutanan UGM pada 1995. Setelah lulus, ia langsung mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di almamaternya.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Georg-August-Universität Göttingen, Jerman, dengan bidang kehutanan tropika dan internasional.
Pada 2001, Satyawan meraih gelar magister setelah melakukan penelitian mengenai ekologi burung raja udang di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktor pada 2005 dengan penelitian tentang ekologi dan penggunaan habitat banteng di kawasan taman nasional yang sama. <Cite refs={[“turn445366search0″,”turn445366search1”]}/>
Latar belakang pendidikan tersebut memperkuat keahliannya dalam pengelolaan hutan, konservasi satwa liar, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Perjalanan Karier Akademik di UGM
Sebelum berkarier di pemerintahan, Satyawan telah menduduki sejumlah jabatan penting di lingkungan UGM. Ia pernah menjadi Kepala Laboratorium Satwa Liar, Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, serta Wakil Dekan Fakultas Kehutanan.
Kariernya berlanjut hingga dipercaya menjadi Dekan Fakultas Kehutanan UGM. Selain menjalankan tugas akademik dan kepemimpinan fakultas, ia juga pernah ditugaskan untuk memimpin Kelompok Kerja Gambut UGM.
Pada 25 Februari 2020, Satyawan dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pengelolaan Satwa Liar di Fakultas Kehutanan UGM. Dalam pidato pengukuhannya, ia mengangkat tema hubungan manusia dan satwa liar serta pentingnya konservasi yang memperhatikan keberlangsungan ekosistem. <Cite refs={[“turn445366search0″,”turn445366search13”]}/>
Pengalaman di Bidang Konservasi dan Restorasi Gambut
Selain aktif di perguruan tinggi, Satyawan terlibat dalam sejumlah organisasi ilmiah nasional dan internasional. Ia tercatat sebagai anggota International Union of Forest Research Organizations (IUFRO) serta Wild Cattle Specialist Group di bawah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Ia juga pernah memimpin Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK-Indonesia), organisasi yang menjadi wadah bagi para ahli dan peneliti di bidang perubahan iklim serta kehutanan.
Pengalaman Satyawan di pemerintahan mencakup jabatan Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi pada Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Setelah itu, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal KSDAE sebelum dipercaya memimpin BPGMN. <Cite refs={[“turn445366news2″,”turn445366search13”]}/>
Pengalaman tersebut berkaitan dengan perencanaan program restorasi, perlindungan kawasan konservasi, dan pengelolaan ekosistem yang mengalami kerusakan.
Tugas Satyawan sebagai Kepala BPGMN
BPGMN dibentuk untuk memperkuat upaya pemerintah dalam melindungi dan memulihkan ekosistem gambut serta mangrove. Kedua ekosistem ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, menyimpan karbon, dan mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dalam menjalankan tugasnya, BPGMN memiliki fokus pada perlindungan ekosistem, pemulihan kawasan yang rusak, serta pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. <Cite refs={[“turn445366news2″,”turn445366search14”]}/>
Pengelolaan gambut juga berkaitan erat dengan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Kerusakan gambut dan perubahan kondisi hidrologis dapat membuat kawasan lebih rentan terbakar, terutama saat musim kemarau.
Sementara itu, rehabilitasi mangrove diperlukan untuk menjaga kawasan pesisir, mendukung keanekaragaman hayati, dan membantu melindungi wilayah pantai dari dampak lingkungan.
Peran Akademisi dalam Pengelolaan Lingkungan
Pengangkatan Satyawan menempatkan seorang akademisi dengan latar belakang kehutanan dan konservasi pada posisi kepemimpinan lembaga nasional yang menangani ekosistem gambut dan mangrove.
Pengalaman di bidang penelitian, kepemimpinan perguruan tinggi, dan birokrasi menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya. Ke depan, pengelolaan kedua ekosistem tersebut membutuhkan dukungan penelitian, pemantauan lapangan, koordinasi antarlembaga, dan keterlibatan masyarakat.
Melalui BPGMN, upaya perlindungan serta pemulihan gambut dan mangrove diharapkan dapat dilakukan secara terarah dengan mempertimbangkan kebutuhan ekologis dan sosial-ekonomi masyarakat.










