JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berkontribusi dalam mengurangi jumlah peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. Berdasarkan data penelitian yang disampaikan Kepala BGN Sudaryono, persentase siswa yang berangkat sekolah dalam kondisi lapar turun dari 56 persen menjadi 16 persen setelah program berjalan. <Cite refs={[“turn312664search0”]}/>
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono saat peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Aceh Besar, Aceh, pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Menurut Sudaryono, pemerintah berharap angka tersebut dapat terus ditekan hingga nol persen. Dengan demikian, semakin banyak anak dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah tanpa harus menghadapi rasa lapar.
BGN Catat Penurunan Jumlah Anak Berangkat Sekolah dalam Keadaan Lapar
Berdasarkan data yang dipaparkan BGN, persentase peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar mengalami perubahan setelah pelaksanaan program MBG.
Sebelum program berjalan, angkanya tercatat sebesar 56 persen. Setelah program dilaksanakan, persentase tersebut disebut turun menjadi 16 persen.
Meski demikian, angka tersebut merupakan data yang disampaikan BGN berdasarkan penelitian yang dirujuk lembaga tersebut. Untuk menilai dampak program secara menyeluruh, informasi mengenai metode penelitian, cakupan sampel, dan periode pengukuran juga penting diperhatikan.
BGN menyatakan masih terdapat anak-anak di wilayah yang belum terjangkau program MBG. Perluasan jangkauan layanan menjadi salah satu perhatian pemerintah agar pemenuhan makanan bergizi dapat menjangkau lebih banyak peserta didik.
Konsumsi Protein Hewani Anak Disebut Meningkat
Selain berkurangnya siswa yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar, BGN melaporkan peningkatan konsumsi protein hewani setelah pelaksanaan MBG.
Menurut data yang disampaikan Sudaryono, persentase konsumsi protein hewani pada anak meningkat dari 26 persen sebelum program menjadi 84 persen setelah program berjalan. <Cite refs={[“turn312664search0”]}/>
Protein hewani dapat diperoleh dari berbagai sumber pangan, seperti telur, ikan, ayam, dan daging. Zat gizi ini berperan dalam pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh, serta mendukung perkembangan anak.
Penyediaan makanan bergizi di sekolah diharapkan dapat membantu anak memperoleh asupan yang lebih beragam. Namun, pemenuhan kebutuhan gizi tetap perlu memperhatikan porsi, keseimbangan zat gizi, serta kebutuhan masing-masing anak.
Konsumsi Buah dan Sayur Juga Mengalami Peningkatan
BGN turut menyampaikan adanya peningkatan konsumsi buah dan sayur pada peserta didik. Berdasarkan data yang dipaparkan, persentasenya meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah program MBG berjalan. <Cite refs={[“turn312664search0”]}/>
Buah dan sayur merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan berbagai komponen pangan yang dibutuhkan tubuh. Kebiasaan mengonsumsi makanan beragam sejak usia sekolah juga dapat membantu membentuk pola makan yang lebih sehat.
Karena itu, BGN menilai pelaksanaan MBG perlu disertai edukasi gizi secara berkelanjutan. Guru dan orang tua dapat berperan dalam membantu anak memahami manfaat makanan bergizi, termasuk pentingnya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.
BGN Berharap Program MBG Menjangkau Lebih Banyak Anak
Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah ingin menekan jumlah anak yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar hingga nol persen. Untuk mencapai tujuan tersebut, akses terhadap program MBG perlu terus diperluas, terutama di wilayah yang belum memperoleh layanan.
Pemerataan jangkauan menjadi tantangan tersendiri karena kondisi geografis, infrastruktur, dan distribusi pangan berbeda di setiap daerah. Pelaksanaan program juga membutuhkan pengawasan agar makanan yang diberikan memenuhi standar keamanan dan kualitas gizi.
Selain distribusi makanan, evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui apakah program benar-benar membantu memperbaiki pola konsumsi dan status gizi anak.
Dampak MBG Perlu Dievaluasi secara Berkelanjutan
Data yang disampaikan BGN memberikan gambaran mengenai perubahan sejumlah indikator konsumsi pangan peserta didik setelah program MBG berjalan. Namun, klaim tersebut tetap perlu dibaca sesuai konteks penelitian dan metode pengukuran yang digunakan.
Keberhasilan program pemenuhan gizi tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan. Kualitas menu, keamanan pangan, pemerataan penerima manfaat, serta perubahan status gizi anak juga menjadi aspek penting untuk dievaluasi.
Dengan perluasan akses dan pengawasan yang berkelanjutan, program MBG diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik dan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.










