JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong siswa memanfaatkan platform Rumah Pendidikan sebagai sumber belajar digital yang interaktif dan mudah diakses. Upaya tersebut dilakukan melalui program Sapa Sekolah 2026 yang melibatkan 80 siswa SMA Negeri 112 Jakarta.
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba berbagai fitur pembelajaran digital, khususnya Ruang Murid. Melalui fitur tersebut, siswa dapat mempelajari materi pelajaran dengan cara yang lebih menarik, mulai dari penggunaan laboratorium virtual hingga permainan edukatif.
Program Sapa Sekolah diselenggarakan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sekaligus memperluas akses siswa terhadap sumber belajar digital. <Cite refs={[“turn463524search1”]}/>
Pemanfaatan Rumah Pendidikan oleh Siswa Masih Rendah
Kepala SMAN 112 Jakarta, Sukarman, menyampaikan bahwa para guru di sekolahnya telah memanfaatkan platform Rumah Pendidikan. Namun, berdasarkan data sekolah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah siswa yang mengakses platform itu masih di bawah 10 persen.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan sekolah menyambut keterlibatan 80 siswa dalam program Sapa Sekolah 2026. Para peserta diharapkan dapat mengenal fitur-fitur Rumah Pendidikan secara langsung dan membagikan pengalaman mereka kepada teman-teman di sekolah.
Sukarman berharap siswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bagi siswa lainnya sehingga pemanfaatan Rumah Pendidikan semakin luas.
Dengan meningkatnya pemanfaatan sumber belajar digital, siswa diharapkan memiliki lebih banyak pilihan untuk memahami materi pelajaran, baik saat mengikuti pembelajaran di kelas maupun ketika belajar secara mandiri.
Siswa Mencoba Laboratorium Virtual dan Permainan Edukatif
Salah satu daya tarik kegiatan Sapa Sekolah adalah kesempatan bagi siswa untuk mencoba pembelajaran melalui laboratorium virtual dan permainan interaktif.
Masyithah Helen Prayagati, siswa kelas XI SMAN 112 Jakarta, mengaku menikmati kegiatan tersebut, terutama ketika mencoba laboratorium virtual dan permainan latihan. Ia menilai laboratorium virtual memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi materi pembelajaran, termasuk termokimia.
Pengalaman serupa dirasakan Ni Putu Mallika Putri, siswa kelas XI di sekolah yang sama. Ia merasa terbantu dengan simulasi pembelajaran, salah satunya materi mengenai golongan darah. Selain itu, permainan interaktif yang dapat dimainkan bersama teman juga menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan.
Sementara itu, Thalita Dzakia Arief menilai Rumah Pendidikan memberikan keleluasaan untuk membaca materi dan berlatih kapan saja, termasuk ketika berada di rumah. Ia juga menyebut akses platform tersebut tidak memerlukan biaya tambahan bagi orang tua.
Pengalaman para siswa ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alternatif pendukung pembelajaran yang lebih fleksibel dan menarik.
Guru Didorong Mengintegrasikan Teknologi ke Pembelajaran
Penanggung jawab pemanfaatan layanan digital Pusdatin Kemendikdasmen, Ai Sri Nurhayati, menjelaskan bahwa Sapa Sekolah menggunakan dua pendekatan. Pertama, memperkenalkan Rumah Pendidikan kepada guru. Kedua, mengajak siswa merasakan secara langsung pengalaman belajar melalui fitur Ruang Murid.
Menurut Ai, tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.
Guru perlu mengidentifikasi materi yang tersedia di platform, kemudian menyesuaikannya dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tidak berhenti pada kegiatan pengenalan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar di sekolah.
Penggunaan sumber belajar digital juga perlu disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran. Guru dapat memilih materi atau simulasi yang relevan agar teknologi benar-benar membantu siswa memahami konsep yang dipelajari.
Teknologi Harus Mendukung Kualitas Pendidikan
Kepala Seksi SMP dan SMA Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Barat, Rusmala Nainggolan, menekankan bahwa teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas pendidikan.
Menurutnya, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mendukung kebutuhan belajar siswa. Karena itu, pemanfaatannya perlu diikuti dengan penerapan yang tepat dalam kegiatan pembelajaran.
Rumah Pendidikan diharapkan dapat membantu guru menyediakan variasi sumber belajar sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi materi secara lebih aktif.
Melalui program Sapa Sekolah 2026, Kemendikdasmen berupaya mendorong kolaborasi antara sekolah, guru, dan siswa agar pemanfaatan teknologi pendidikan dapat berlanjut setelah kegiatan selesai.
Rumah Pendidikan Diharapkan Mendukung Belajar Mandiri
Pengenalan Rumah Pendidikan kepada siswa menjadi salah satu langkah untuk memperluas pemanfaatan sumber belajar digital. Fitur seperti laboratorium virtual, materi pembelajaran, dan permainan interaktif dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari metode konvensional.
Agar manfaatnya optimal, siswa perlu didorong untuk menggunakan platform secara berkelanjutan. Guru juga memiliki peran penting dalam mengarahkan pemilihan materi sesuai pelajaran yang sedang dipelajari.
Dengan kolaborasi antara sekolah dan siswa, Rumah Pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi platform yang dikenal, tetapi juga menjadi salah satu sumber belajar yang digunakan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Upaya ini menjadi bagian dari pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih aktif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.










