JAKARTA – Ratu Thailand Suthida Bajrasudhabimalalakshana menjadi sorotan setelah menerbangkan pesawat kerajaan Boeing 737-800 dalam kunjungan ke Jepang pada Oktober 2026. Tak hanya menguasai pesawat penumpang, Ratu Suthida juga berhasil melakukan penerbangan solo menggunakan jet tempur JAS 39C Gripen pada 8 Oktober 2026.
Kemampuan tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang dalam dunia penerbangan, mulai dari pelatihan penerbangan sipil, pendidikan penerbangan militer, hingga memperoleh lisensi pilot komersial dan lisensi pilot transportasi udara.
Lantas, di mana Ratu Suthida belajar menjadi pilot dan bagaimana perjalanan karier penerbangannya? <Cite refs={[“turn621524news10″,”turn621524search2″,”turn621524search6”]}/>
1. Lulusan Universitas Assumption, Bangkok
Ratu Suthida lahir di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, pada 3 Juni 1978. Sebelum dikenal sebagai anggota keluarga kerajaan yang memiliki kemampuan menerbangkan pesawat, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Assumption, Bangkok.
Ia meraih gelar sarjana seni komunikasi. Setelah lulus, Suthida bekerja sebagai pramugari di Japan Airlines (JAL) pada 2000–2003, kemudian melanjutkan karier sebagai pramugari Thai Airways International pada 2003–2008.
Pengalaman bekerja di dunia penerbangan sipil menjadi bagian awal perjalanan profesionalnya di bidang aviasi. Setelah itu, ia beralih menjadi petugas staf operasional di Unit Pengawal Kerajaan, Komando Keamanan Kerajaan Thailand. <Cite refs={[“turn621524search1″,”turn621524news10”]}/>
2. Belajar Terbang di Sekolah Penerbangan Angkatan Udara Thailand
Ratu Suthida mulai mengikuti pelatihan penerbangan pada 2010. Pendidikan tersebut ditempuh melalui sejumlah program penerbangan militer di Thailand.
Berikut tahapan pendidikan penerbangan yang pernah dijalaninya:
- 8 Desember 2010: Menyelesaikan kursus penerbangan sipil Angkatan Udara Kerajaan Thailand dengan menerbangkan pesawat Cessna T-41.
- 16 Januari 2011: Menyelesaikan kursus kadet penerbangan sayap tetap Angkatan Darat Thailand di Army Aviation School, juga menggunakan Cessna T-41.
- 6 Desember 2012: Menyelesaikan kursus penerbangan di Royal Thai Air Force Flying Training School dengan menggunakan pesawat CT-4E dan PC-9.
Rangkaian pelatihan tersebut memberikan pengalaman dasar dan lanjutan dalam mengendalikan pesawat. Pendidikan penerbangan yang ditempuh Suthida juga menunjukkan bahwa kemampuannya tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan bertahap. <Cite refs={[“turn621524search2″,”turn621524search4”]}/>
3. Mendapatkan Lisensi Pilot di Jerman
Setelah menyelesaikan pelatihan di Thailand, Suthida melanjutkan pendidikan penerbangan di Jerman. Dalam tahap ini, ia memperoleh lisensi pilot pribadi atau Private Pilot Licence (PPL) untuk beberapa jenis pesawat, yakni Cessna 172, Mooney M-20, dan Piper PA-34 Seneca.
Ia juga memperoleh lisensi pilot komersial atau Commercial Pilot Licence (CPL) dengan kualifikasi tipe Boeing 737, serta kualifikasi teori untuk Airline Transport Pilot Licence (ATPL).
Selanjutnya, Suthida mendapatkan lisensi pilot transportasi udara dari Otoritas Penerbangan Sipil Thailand.
Lisensi tersebut menjadi bagian penting dalam kualifikasinya untuk menerbangkan pesawat komersial berukuran besar sesuai ketentuan penerbangan yang berlaku. <Cite refs={[“turn621524search2″,”turn621524search4”]}/>
4. Menjadi Kopilot Pesawat Kerajaan Thailand
Setelah menjalani pendidikan dan memperoleh kualifikasi penerbangan, Suthida bertugas sebagai kopilot pada pesawat Boeing 737-400 dan Boeing 737-800 milik kerajaan Thailand.
Dalam sejumlah perjalanan resmi kerajaan, Raja Maha Vajiralongkorn atau Rama X bertindak sebagai pilot, sementara Ratu Suthida mendampinginya sebagai kopilot.
Salah satu perjalanan yang mendapat perhatian terjadi pada April 2025, ketika Raja dan Ratu Thailand melakukan kunjungan kenegaraan ke Bhutan. Raja menerbangkan pesawat Boeing 737-800 kerajaan menuju Bandara Internasional Paro dengan Suthida sebagai kopilot.
Bandara Paro berada di lembah Himalaya yang dikelilingi pegunungan. Kondisi geografis tersebut membuat pendekatan dan pendaratan pesawat di bandara itu memiliki tantangan tersendiri.
Pengalaman menerbangkan pesawat kerajaan memperlihatkan bahwa Suthida memiliki kualifikasi dan pengalaman penerbangan yang jauh melampaui pengalaman penerbangan dasar. <Cite refs={[“turn621524search7″,”turn621524search8”]}/>
5. Latihan Intensif Menerbangkan Jet Tempur Gripen
Selain pesawat penumpang, Ratu Suthida juga menjalani pelatihan untuk menerbangkan jet tempur JAS 39C Gripen milik Angkatan Udara Kerajaan Thailand.
Sebelum mencoba penerbangan solo, ia mengikuti pelatihan intensif bersama instruktur penerbangan dan spesialis Angkatan Udara Thailand. Program tersebut berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Tahapan persiapannya mencakup latihan menggunakan pesawat latih jet L-39, sesi simulator, serta pengenalan sistem teknis pesawat Gripen di pangkalan Wing 7, Provinsi Surat Thani.
Pelatihan itu dirancang untuk meningkatkan pemahaman mengenai karakteristik dan pengoperasian pesawat tempur sebelum menjalani penerbangan solo.
Pada 8 Oktober 2026, Suthida berhasil menyelesaikan penerbangan solo pertamanya menggunakan jet tempur JAS 39C Gripen. Raja Maha Vajiralongkorn menyaksikan penerbangan tersebut dari darat dan memberikan bunga serta lencana Gripen Order Golden Patch setelah penerbangan selesai. <Cite refs={[“turn621524search6″,”turn621524search9”]}/>
6. Ratu Suthida Terbangkan Boeing 737-800 ke Jepang
Kemampuan penerbangan Suthida kembali menjadi perhatian ketika ia menerbangkan pesawat kerajaan Boeing 737-800 dalam kunjungan ke Jepang pada 14 Oktober 2026.
Pesawat berangkat dari Bandara Militer Don Mueang di Bangkok dan mendarat di Bandara New Chitose, Hokkaido. Kunjungan tersebut berkaitan dengan agenda Ratu Suthida menghadiri kegiatan kejuaraan hoki es wanita internasional.
Penerbangan itu menjadi sorotan karena Suthida bukan hanya anggota keluarga kerajaan, tetapi juga seorang penerbang dengan pelatihan dan lisensi resmi.
Perjalanan kariernya memperlihatkan bahwa keterampilan menerbangkan pesawat membutuhkan pendidikan, latihan berkelanjutan, serta pemenuhan persyaratan keselamatan dan kualifikasi penerbangan. <Cite refs={[“turn621524news10″,”turn621524search2”]}/>
Perjalanan Panjang di Dunia Penerbangan
Riwayat pendidikan Ratu Suthida menunjukkan proses bertahap dalam membangun kompetensi penerbangan. Ia memulai karier sebagai pramugari, kemudian mengikuti pelatihan penerbangan di Thailand, melanjutkan pendidikan di Jerman, dan memperoleh kualifikasi untuk menerbangkan pesawat komersial.
Pengalamannya sebagai kopilot pesawat kerajaan kemudian dilengkapi dengan pelatihan khusus untuk jet tempur Gripen.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menerbangkan pesawat, terutama pesawat berukuran besar dan jet tempur, memerlukan proses pendidikan serta pelatihan yang panjang. Pencapaian Suthida menjadi salah satu contoh perjalanan profesional di bidang penerbangan yang dibangun melalui disiplin dan latihan berkelanjutan.





