JAKARTA – Burung gannet memiliki kemampuan berburu yang luar biasa. Burung laut ini dapat menukik dari udara dan menghantam permukaan laut dengan kecepatan sekitar 112 kilometer per jam untuk menangkap ikan. Meski mengalami benturan kuat, lehernya mampu bertahan tanpa mengalami patah tulang.
Rahasia kemampuan tersebut terungkap melalui penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal The Anatomical Record pada 12 Oktober 2026. Penelitian yang dilakukan tim dari University of Washington menemukan bahwa burung gannet dan burung booby memiliki struktur tulang leher yang lebih kokoh dibandingkan banyak jenis burung lainnya.
Tulang leher kedua kelompok burung tersebut lebih tebal, lebih lebar, dan relatif lebih pendek. Selain itu, terdapat permukaan persendian tambahan pada beberapa ruas tulang leher yang membantu menstabilkan leher ketika menghantam air. <Cite refs={[“turn746302search1″,”turn746302search3”]}/>
1. Burung Gannet Menukik dengan Kecepatan Tinggi
Gannet merupakan burung laut yang mencari makan dengan cara menyelam menukik atau plunge-diving. Ketika melihat sekelompok ikan di permukaan laut, burung ini akan melipat sayapnya dan meluncur dari udara menuju air.
Burung gannet utara (northern gannet) dapat mencapai kecepatan sekitar 70 mil per jam atau 113 kilometer per jam saat menghantam permukaan laut.
Kecepatan tersebut membuat tubuh dan lehernya harus menahan gaya benturan yang sangat besar. Air memiliki kepadatan jauh lebih tinggi dibandingkan udara, sehingga memasuki air dengan kecepatan tinggi dapat menimbulkan tekanan besar pada tubuh.
Kemampuan gannet bertahan dari benturan tersebut menjadi perhatian para peneliti yang ingin memahami bagaimana struktur tulangnya beradaptasi dengan perilaku berburu ekstrem. <Cite refs={[“turn746302search1″,”turn746302search5”]}/>
2. Tulang Leher Lebih Tebal, Lebar, dan Pendek
Penelitian yang dipimpin Megan Vandenberg dari University of Washington menemukan bahwa burung yang berburu dengan cara menukik memiliki ruas tulang leher yang lebih kokoh.
Tim peneliti membandingkan struktur tulang leher lima spesies burung penyelam menukik dengan dua spesies burung yang tidak menggunakan cara berburu tersebut.
Peneliti memeriksa 15 rangka burung dewasa dari koleksi Burke Museum of Natural History and Culture. Rangka-rangka tersebut dipindai menggunakan teknologi micro-CT untuk menghasilkan model tiga dimensi tulang leher.
Hasilnya menunjukkan bahwa burung gannet dan booby memiliki ruas tulang leher yang cenderung berbentuk kotak, dengan ukuran lebih tebal dan lebar dibandingkan sejumlah burung lainnya.
Bentuk tersebut membantu tulang menahan gaya tekan yang muncul ketika kepala dan leher memasuki air dengan kecepatan tinggi. <Cite refs={[“turn746302search1″,”turn746302search3”]}/>
3. Memiliki Permukaan Persendian Tambahan
Selain bentuk tulang yang lebih kokoh, peneliti menemukan ciri anatomi lain yang membantu menstabilkan leher burung gannet dan booby.
Pada ruas tulang leher kedua hingga keenam, terdapat permukaan persendian tambahan yang disebut articular facet. Struktur tersebut menjadi titik kontak tambahan di antara ruas tulang yang berdekatan.
Peneliti menduga permukaan tambahan ini membantu mencegah leher menekuk ke belakang ketika burung menghantam air pada sudut tertentu.
Dengan adanya titik kontak tersebut, gaya benturan dapat disalurkan melalui struktur tulang leher secara lebih merata, alih-alih terkonsentrasi pada satu bagian saja.
Temuan ini memberikan penjelasan anatomi yang lebih rinci tentang bagaimana burung gannet dapat menahan benturan ketika berburu di laut. Meski demikian, mekanisme lengkap perpindahan gaya di sepanjang leher masih memerlukan penelitian lanjutan. <Cite refs={[“turn746302search1″,”turn746302search3”]}/>
4. Otot Leher Ikut Menjaga Stabilitas
Struktur tulang bukan satu-satunya faktor yang membantu burung gannet bertahan dari benturan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa otot-otot di sekitar tulang leher juga berperan dalam menstabilkan leher sebelum burung memasuki air.
Otot tersebut membantu membatasi gerakan leher sehingga ruas tulang tidak mudah menekuk ketika menerima gaya benturan mendadak.
Ketika gannet menukik, posisi tubuh dan kepala yang relatif sejajar dengan arah gerakan juga membantu mengurangi risiko leher mengalami tekukan berlebihan.
Dengan demikian, kemampuan burung gannet bukan hanya berasal dari satu bagian tubuh, melainkan kombinasi struktur tulang, otot, dan cara burung mengatur posisi ketika menyelam. <Cite refs={[“turn746302search6″,”turn746302search7”]}/>
5. Penelitian Dilakukan dengan Pemindaian Tulang Tiga Dimensi
Untuk memahami bentuk tulang leher secara lebih terperinci, tim peneliti menggunakan teknologi pemindaian micro-computed tomography atau micro-CT.
Teknologi ini menghasilkan gambar tiga dimensi berdasarkan banyak irisan sinar-X tipis. Dengan cara tersebut, peneliti dapat mengukur bentuk dan ukuran ruas tulang tanpa hanya mengandalkan pengamatan dari permukaan.
Peneliti kemudian membandingkan berbagai ukuran tulang leher dan titik anatomi pada sejumlah spesies burung. Data tersebut digunakan untuk melihat hubungan antara bentuk tulang dan gaya yang mungkin dialami ketika burung mencari makan.
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara perilaku menyelam menukik dan struktur tulang leher yang lebih kokoh. Namun, penelitian ini terutama berfokus pada perbandingan anatomi, sehingga pengujian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk menjelaskan secara terperinci bagaimana setiap struktur menahan dan menyalurkan gaya benturan. <Cite refs={[“turn746302search1″,”turn746302search3”]}/>
6. Temuan Ini Bisa Membantu Penelitian Fosil Burung
Penelitian mengenai struktur tulang leher burung penyelam juga berpotensi membantu ilmuwan mempelajari burung purba.
Jika bentuk tulang tertentu terbukti berkaitan dengan perilaku menyelam menukik, ciri tersebut dapat menjadi petunjuk bagi ahli paleontologi ketika mempelajari fosil burung.
Melalui perbandingan bentuk tulang, peneliti dapat menyelidiki kemungkinan cara burung purba mencari makan dan beradaptasi terhadap lingkungannya.
Walaupun tidak semua ciri tulang dapat langsung memastikan perilaku suatu spesies, hubungan antara anatomi dan fungsi dapat memberikan petunjuk tambahan untuk merekonstruksi kehidupan hewan pada masa lampau. <Cite refs={[“turn746302search1”]}/>
Kesimpulan
Burung gannet mampu menghantam permukaan laut dengan kecepatan sekitar 112–113 kilometer per jam tanpa mudah mengalami patah tulang leher berkat sejumlah adaptasi anatomi.
Penelitian terbaru menemukan bahwa ruas tulang lehernya lebih tebal, lebar, dan kokoh, serta memiliki permukaan persendian tambahan yang membantu menjaga stabilitas ketika terjadi benturan.
Bersama dukungan otot dan posisi tubuh saat menyelam, struktur tersebut membantu burung gannet menjalankan strategi berburu yang menuntut ketahanan terhadap gaya benturan tinggi.










