YOGYAKARTA – Buku bergambar dan kegiatan mendongeng menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan minat literasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di TK IT Mekar Insani. Melalui pendampingan guru dan layanan perpustakaan keliling, anak-anak diperkenalkan pada buku yang disesuaikan dengan karakteristik, minat, dan kemampuan masing-masing.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca atau mengenali huruf. Guru juga memperhatikan ketertarikan anak terhadap buku, kemampuan mempertahankan perhatian, keterlibatan dalam kegiatan, serta perkembangan komunikasi.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengenalan literasi pada anak usia dini perlu dilakukan secara bertahap, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan setiap anak. <Cite refs={[“turn424096search0”]}/>
1. Literasi Anak Berkebutuhan Khusus Tidak Hanya Diukur dari Kemampuan Membaca
Guru TK IT Mekar Insani, Maya, menjelaskan bahwa perkembangan literasi anak berkebutuhan khusus tidak selalu dapat diukur dari kemampuan membaca atau mengenali huruf.
Guru juga mengamati apakah anak mulai tertarik membuka buku, memperhatikan gambar dalam waktu lebih lama, serta bersedia berinteraksi selama kegiatan membaca berlangsung.
Ketertarikan terhadap buku dan keterlibatan dalam kegiatan menjadi indikator awal yang dapat membantu guru memahami perkembangan setiap anak.
Pendekatan ini penting karena anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan kebutuhan yang beragam. Ada anak yang tertarik pada gambar, tetapi belum dapat mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Ada pula yang membutuhkan bantuan untuk memahami instruksi atau menyampaikan keinginannya.
Dengan memperhatikan respons tersebut, guru dapat menyesuaikan kegiatan literasi agar lebih mudah diikuti dan memberikan pengalaman positif bagi anak. <Cite refs={[“turn424096search0”]}/>
2. Buku Bergambar Membantu Anak Memahami Cerita
Buku bergambar menjadi salah satu media yang digunakan untuk menarik perhatian anak. Ilustrasi yang jelas dan menarik dapat membantu anak mengenali objek serta menghubungkan cerita dengan lingkungan di sekitarnya.
Dalam kegiatan membaca, guru tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga memberikan pertanyaan sederhana, menggunakan gerakan, dan memperlihatkan benda konkret yang berkaitan dengan isi buku.
Cara tersebut membantu anak memahami cerita melalui berbagai pengalaman, bukan hanya melalui kata-kata.
Pemilihan buku dan metode pendampingan dilakukan berdasarkan pengamatan awal terhadap minat serta kemampuan anak. Dengan demikian, kegiatan literasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
3. Respons Anak Tidak Harus Selalu Berupa Jawaban Lisan
Salah satu hal yang diperhatikan dalam kegiatan literasi di TK IT Mekar Insani adalah cara anak menunjukkan pemahaman dan berkomunikasi.
Maya menjelaskan bahwa respons anak tidak harus selalu disampaikan secara verbal. Ketika anak mampu menunjuk gambar yang diminta, melihat benda yang diperlihatkan, atau memberikan respons melalui gerakan, hal tersebut juga dapat menjadi bentuk komunikasi yang diamati guru.
Pendekatan ini membantu guru mengenali kemampuan anak tanpa hanya mengandalkan jawaban lisan.
Guru kemudian dapat menggunakan respons tersebut untuk menentukan bentuk pendampingan yang sesuai. Dengan memberikan waktu dan dukungan yang cukup, anak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan membaca sesuai kemampuannya.
4. Perpustakaan Keliling Mendukung Kebiasaan Membaca
Kegiatan literasi di TK IT Mekar Insani juga didukung oleh layanan perpustakaan keliling yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Petugas perpustakaan keliling, Alfian, menjelaskan bahwa layanan tersebut mengunjungi sekolah pada pagi hari dan kawasan permukiman pada sore hari. Setiap kunjungan berlangsung sekitar dua setengah jam dan dapat dimanfaatkan secara gratis.
Kehadiran perpustakaan keliling memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi langsung dengan berbagai koleksi buku tanpa harus datang ke perpustakaan tetap.
Bagi anak usia dini, penambahan koleksi buku bergambar menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhatikan. Buku dengan teks singkat dan ilustrasi menarik dapat membantu petugas membawakan cerita yang lebih beragam serta mendorong anak mengekspresikan diri.
5. Kolaborasi Guru dan Perpustakaan untuk Menumbuhkan Literasi
Kolaborasi antara guru dan layanan perpustakaan keliling memperluas kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk mengenal buku melalui pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Guru berperan mengamati karakteristik anak dan menyesuaikan metode pendampingan. Sementara itu, perpustakaan keliling menyediakan akses terhadap bahan bacaan serta kegiatan mendongeng yang dapat membuat pengalaman membaca lebih menarik.
Sinergi tersebut diharapkan membantu anak membangun rasa ingin tahu, meningkatkan keterlibatan dalam kegiatan, dan mengembangkan komunikasi sejak usia dini.
Pengenalan literasi yang dilakukan secara konsisten dan menyenangkan juga dapat menjadi fondasi untuk membangun kebiasaan positif terhadap buku.
Kesimpulan
Buku bergambar, kegiatan mendongeng, pendampingan guru, dan layanan perpustakaan keliling menjadi bagian dari upaya menumbuhkan minat literasi anak berkebutuhan khusus di TK IT Mekar Insani.
Keberhasilan literasi tidak hanya dilihat dari kemampuan membaca atau mengenali huruf, tetapi juga dari ketertarikan terhadap buku, perhatian, keterlibatan, dan perkembangan komunikasi anak.
Melalui pendekatan yang fleksibel serta kolaborasi antara sekolah dan perpustakaan, anak-anak diharapkan memperoleh pengalaman literasi yang menyenangkan, inklusif, dan sesuai dengan kemampuan masing-masing.










