Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi Ainun, seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tasikmalaya, untuk menyelesaikan pendidikan magister. Ia berhasil meraih gelar S2 Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana di kampus yang sama sekitar 20 tahun lalu.
Perjalanan Ainun menjadi gambaran tentang pentingnya ketekunan, akses pendidikan, dan pemanfaatan teknologi bagi penyandang disabilitas. Di tengah berbagai tantangan selama perkuliahan, ia terus berupaya mengembangkan kemampuan agar pendidikan yang ditempuh selaras dengan profesinya sebagai guru SLB.
Kisahnya juga menyoroti pentingnya lingkungan pendidikan yang inklusif, termasuk penyediaan fasilitas digital yang dapat diakses oleh mahasiswa tunanetra. <Cite refs={[“turn104661search4″,”turn104661search7”]}/>
1. Melanjutkan S2 agar Selaras dengan Profesi sebagai Guru SLB
Ainun sebelumnya menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sejarah di UPI. Setelah lulus, ia memilih bekerja sebagai guru di SLB Negeri Tasikmalaya.
Pengalaman mengajar peserta didik berkebutuhan khusus mendorongnya untuk memperdalam ilmu yang berkaitan langsung dengan pekerjaan tersebut. Ketika mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan, ia memilih program S2 Pendidikan Khusus, yang sebelumnya dikenal sebagai Pendidikan Luar Biasa (PLB).
Keputusan tersebut diambil agar latar belakang akademiknya semakin sesuai dengan bidang pekerjaan yang dijalani sehari-hari.
Melalui pendidikan lanjutan, Ainun berharap dapat memperkuat pemahaman dan kompetensinya dalam mendampingi peserta didik penyandang disabilitas.
2. Menghadapi Tantangan Saat Kuliah S1
Perjalanan pendidikan Ainun tidak selalu mudah. Ketika menempuh S1 sekitar dua dekade lalu, teknologi pendukung bagi penyandang disabilitas netra belum berkembang seperti sekarang.
Saat itu, Ainun belum memiliki akses terhadap komputer atau laptop dengan teknologi pembaca layar seperti yang digunakannya saat ini. Untuk mempelajari materi perkuliahan, ia masih bergantung pada bantuan orang lain yang membacakan bahan bacaan.
Selain keterbatasan teknologi, ia juga menghadapi persoalan keluarga yang membuat proses perkuliahannya terasa lebih berat.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap materi pembelajaran menjadi faktor penting bagi mahasiswa tunanetra. Tanpa dukungan teknologi dan fasilitas yang sesuai, kegiatan membaca, mengerjakan tugas, serta mengakses sumber akademik dapat membutuhkan bantuan tambahan.
3. Teknologi Pembaca Layar Membantu Ainun Belajar Mandiri
Saat menempuh pendidikan S2, Ainun merasakan perubahan besar berkat perkembangan teknologi. Ia menggunakan laptop yang dilengkapi perangkat lunak pembaca layar NVDA.
Teknologi tersebut memungkinkan komputer membacakan teks yang tampil di layar sehingga pengguna tunanetra dapat mengakses informasi digital, mengetik, dan menyelesaikan tugas dengan lebih mandiri.
Dibandingkan pengalaman kuliah S1, penggunaan pembaca layar membuat Ainun tidak lagi terlalu bergantung pada bantuan orang lain untuk memahami materi tertulis.
Kemajuan teknologi asistif ini menunjukkan bagaimana perangkat digital dapat membuka kesempatan belajar yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Meski demikian, manfaatnya akan lebih maksimal jika aplikasi dan situs web yang digunakan juga dirancang agar kompatibel dengan teknologi pembaca layar. <Cite refs={[“turn104661search4”]}/>
4. Menjalani Perkuliahan dengan Sistem Blended Learning
Ainun menempuh pendidikan magister melalui kelas kerja sama yang menerapkan sistem blended learning, yaitu perpaduan pembelajaran daring dan luring.
Sebagian besar kegiatan perkuliahan berlangsung secara daring, sedangkan pertemuan langsung di kampus dilakukan beberapa kali dalam satu semester.
Pola pembelajaran tersebut membantu mahasiswa mengikuti kegiatan akademik dengan lebih fleksibel. Namun, kemudahan belajar daring tetap bergantung pada aksesibilitas platform yang digunakan.
Ainun mengungkapkan bahwa beberapa laman digital di lingkungan UPI masih belum sepenuhnya ramah bagi pengguna pembaca layar. Ia pernah mengalami kesulitan ketika mengunggah tugas dan mengirimkan tesis melalui laman repositori.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa pembelajaran digital yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan daring. Sistemnya juga perlu memastikan seluruh mahasiswa dapat mengakses informasi, mengisi formulir, dan mengunggah dokumen secara mandiri.
5. Ainun Soroti Aksesibilitas Situs Web Kampus
Di tengah kemudahan yang diberikan teknologi, Ainun berharap aksesibilitas situs web perguruan tinggi terus ditingkatkan.
Menurutnya, layanan digital kampus perlu mengikuti standar aksesibilitas agar dapat digunakan dengan baik oleh penyandang disabilitas netra yang mengandalkan pembaca layar.
Hambatan digital dapat muncul ketika tombol, formulir, menu, atau bagian tertentu dari sebuah situs tidak terbaca dengan benar oleh perangkat bantu. Akibatnya, mahasiswa dapat mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas administratif maupun akademik.
Ainun juga menilai bahwa pelayanan dari orang-orang di lingkungan UPI cukup ramah. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi fisik kampus tetap perlu diperhatikan. Banyaknya tangga serta perubahan tata letak bangunan membuatnya harus kembali beradaptasi dengan lingkungan kampus.
Menurutnya, kampus inklusif perlu memperhatikan aksesibilitas digital sekaligus kemudahan mobilitas fisik bagi penyandang disabilitas. <Cite refs={[“turn104661search4″,”turn104661search7”]}/>
6. Mengajak Penyandang Disabilitas Terus Menempuh Pendidikan
Sebagai guru SLB, Ainun melihat bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang dapat terus dikembangkan. Kesempatan memperoleh pendidikan dan akses terhadap teknologi menjadi faktor penting untuk menggali potensi tersebut.
Ia berpesan kepada mahasiswa penyandang disabilitas, terutama generasi muda, agar tetap bersemangat belajar dan tidak tertinggal dalam penguasaan teknologi informasi.
Ainun juga mengajak orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas untuk tidak berkecil hati dan tetap memberikan kesempatan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Menurut pengalamannya, stigma negatif terhadap penyandang disabilitas masih ditemukan di masyarakat. Sebagian orang masih memandang mereka sebagai kelompok yang berbeda atau memiliki kedudukan lebih rendah dibandingkan orang nondisabilitas.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan, latihan, dan kesempatan yang setara agar kemampuan setiap individu dapat berkembang.
7. Pentingnya Pendidikan Inklusif bagi Masa Depan
Kisah Ainun menunjukkan bahwa akses pendidikan bagi penyandang disabilitas perlu didukung oleh berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat.
Teknologi asistif seperti pembaca layar dapat membantu mahasiswa tunanetra mengakses materi pembelajaran secara lebih mandiri. Namun, dukungan tersebut perlu disertai platform digital yang aksesibel, fasilitas kampus yang aman, serta pelayanan yang memahami kebutuhan mahasiswa.
Perguruan tinggi juga dapat mengevaluasi situs web, sistem administrasi, bahan ajar digital, dan fasilitas fisik agar dapat digunakan oleh mahasiswa dengan beragam kebutuhan.
Dengan lingkungan belajar yang inklusif, kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi tidak hanya terbuka bagi kelompok tertentu, tetapi juga dapat diakses lebih luas oleh penyandang disabilitas.
Kesimpulan
Ainun, guru SLB Negeri Tasikmalaya yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra, berhasil menyelesaikan S2 Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia setelah sebelumnya meraih gelar S1 Pendidikan Sejarah di kampus yang sama sekitar 20 tahun lalu.
Dalam proses kuliahnya, Ainun terbantu oleh teknologi pembaca layar NVDA yang membuatnya lebih mandiri dalam mengakses materi dan mengerjakan tugas.










