Bandung Barat – Perjalanan menuju sekolah kini diharapkan menjadi lebih aman bagi 16 siswa SD Negeri Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sebelumnya, para siswa harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit setiap berangkat dan pulang sekolah.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kini menyediakan satu unit kendaraan khusus antar-jemput sebagai solusi sementara. Kendaraan tersebut disiapkan setelah Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail melihat langsung kondisi akses yang selama ini dilalui para siswa.
Kendaraan Antar-Jemput Jadi Solusi Sementara
Jeje mengatakan penyediaan kendaraan merupakan bentuk tindak lanjut setelah dirinya meninjau kondisi akses siswa. Menurutnya, kebutuhan transportasi yang lebih aman harus segera ditangani sambil pemerintah menyiapkan solusi permanen.
Kendaraan tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah desa untuk digunakan mengantar dan menjemput siswa. Pemkab Bandung Barat juga menyiapkan biaya operasional selama enam bulan, termasuk kebutuhan bahan bakar dan gaji pengemudi.
Layanan antar-jemput tersebut diberikan secara gratis sehingga orangtua atau wali siswa tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi.
Sebelumnya Siswa Menyeberangi Waduk dengan Rakit
Sebanyak 16 siswa SDN Budiharja yang tinggal di Kampung Sadang, Desa Budiharja, selama ini menggunakan jalur air untuk menuju sekolah di Kampung Gombong.
Para siswa tersebut terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.
Rakit menjadi pilihan karena jalur darat menuju sekolah harus memutar. Jarak melalui jalur darat disebut mencapai hampir 4 kilometer, sedangkan perjalanan dengan berjalan kaki dapat memakan waktu sekitar 30 menit.
Dengan menggunakan rakit, perjalanan menyeberangi waduk dapat ditempuh hanya dalam beberapa menit. Kondisi tersebut membuat jalur air selama bertahun-tahun menjadi akses yang digunakan siswa untuk bersekolah.
Pemkab Bandung Barat Siapkan Solusi Permanen
Penyediaan kendaraan antar-jemput bukan merupakan solusi akhir. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat masih mengkaji pembangunan akses permanen agar siswa tidak lagi bergantung pada rakit.
Berdasarkan kajian teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Bandung Barat, bentang perairan yang perlu dihubungkan mencapai sekitar 280 meter. Kondisi tersebut membuat opsi pembangunan jembatan gantung dinilai belum memungkinkan.
Salah satu alternatif yang sedang dipertimbangkan adalah jembatan apung. Namun, pembangunan fasilitas tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut, terutama dari sisi teknis dan kemampuan pembiayaan pemerintah daerah.
Pemerintah Pertimbangkan Kondisi Lapangan
Pemilihan kendaraan antar-jemput dilakukan setelah pemerintah mempertimbangkan berbagai masukan dan kondisi akses yang ada. Kendaraan dinilai dapat menjadi solusi yang lebih cepat diterapkan sembari proses kajian pembangunan akses permanen berjalan.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan siswa terhadap penyeberangan menggunakan rakit untuk aktivitas sekolah sehari-hari.
Sebelumnya, persoalan akses siswa ini mendapat perhatian setelah kondisi anak-anak yang menyeberangi Waduk Saguling dengan rakit ramai diperbincangkan. Bagi warga Kampung Sadang, penggunaan rakit telah berlangsung selama puluhan tahun karena belum tersedia jembatan penghubung.
Akses Pendidikan Menjadi Perhatian
Kepala SDN Budiharja, Taufik, sebelumnya menjelaskan bahwa persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jarak, tetapi juga kenyamanan dan akses anak-anak untuk memperoleh pendidikan.
Dengan adanya kendaraan antar-jemput, siswa dari Kampung Sadang kini memiliki alternatif perjalanan menuju sekolah tanpa harus menggunakan rakit.
Sementara itu, pembangunan akses permanen masih menjadi pekerjaan berikutnya bagi pemerintah daerah. Kajian terhadap jembatan apung diharapkan dapat memberikan pilihan yang aman dan sesuai dengan kondisi Waduk Saguling serta kemampuan anggaran daerah.
Untuk sementara, kendaraan antar-jemput menjadi langkah yang disiapkan Pemkab Bandung Barat agar 16 siswa SDN Budiharja dapat berangkat dan pulang sekolah dengan akses transportasi yang lebih aman.








