Isi Berita
Boyolali – Sebanyak 50 pelajar SMP di Kabupaten Boyolali mengikuti program Kelana (Kegiatan Edukasi Literasi dengan Aksi Nyata) pada Kamis (24/9/2026). Berbeda dari kegiatan literasi pada umumnya, para siswa diajak belajar sambil berkeliling kota menggunakan angkutan kota (angkot).
Program yang digelar oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali tersebut dirancang untuk mengenalkan literasi melalui pengalaman langsung. Para siswa tidak hanya diajak membaca di dalam ruang perpustakaan, tetapi juga mengamati berbagai tempat dan potensi daerah yang mereka temui selama perjalanan.
Belajar Literasi dengan Metode Observasi
Kepala Dinas Arpus Kabupaten Boyolali, Arif Budi Nuranto, menjelaskan bahwa perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca. Perpustakaan juga dapat berperan dalam memberikan pengalaman belajar kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan literasi.
Dalam program Kelana, siswa diajak menerapkan metode mengamati, bertanya, kemudian menceritakan kembali hal-hal yang mereka lihat selama perjalanan. Metode tersebut membuat aktivitas literasi tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga dengan lingkungan sekitar.
Menyusuri Sejumlah Destinasi di Boyolali
Perjalanan para peserta dimulai dari Perpusda Remen Maos. Dari lokasi tersebut, rombongan kemudian menggunakan angkot menuju sejumlah titik yang telah ditentukan.
Tujuan pertama adalah Simpang Tiga Menara, yang memiliki berbagai miniatur ikon dunia, termasuk Menara Eiffel. Di tempat ini, siswa dapat mengamati berbagai objek sekaligus memperoleh pengetahuan dari lingkungan yang mereka kunjungi.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wisata Edukasi Religi Qolbu (Wer Qolbu). Destinasi tersebut menjadi salah satu lokasi pembelajaran mengenai wisata religi, termasuk berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan manasik haji dan umrah.
Mengenal Miniatur Dunia dan Sejarah Lokal
Setelah dari Wer Qolbu, perjalanan dilanjutkan menuju Simpang Solidaritas. Di lokasi tersebut terdapat sejumlah miniatur ikon dunia, antara lain Candi Borobudur dan Patung Sphinx.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Museum R. Hamong Wardoyo. Museum tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk mengenal sejarah lokal Kabupaten Boyolali.
Nama museum diambil dari Raden Hamong Wardoyo, tokoh yang disebut memiliki peran dalam sejarah Boyolali dan merupakan bupati pertama daerah tersebut. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan akar sejarah dan peradaban lokal kepada para pelajar.
Literasi Tak Hanya di Dalam Perpustakaan
Program Kelana menunjukkan bahwa kegiatan literasi dapat dilakukan melalui berbagai cara dan tempat. Para siswa memperoleh kesempatan untuk belajar dari objek yang mereka lihat secara langsung, kemudian mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan.
Melalui pendekatan tersebut, kegiatan membaca dan belajar diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi juga mendorong siswa untuk mengamati lingkungan, mengajukan pertanyaan, serta mengungkapkan kembali informasi yang diperoleh.
Bagi para pelajar, perjalanan menggunakan angkot sekaligus menjadi pengalaman belajar yang berbeda dari kegiatan pembelajaran rutin di sekolah. Mereka dapat mengenal berbagai sudut Boyolali sambil mengembangkan kemampuan literasi melalui pengalaman nyata.








