“I like it! It’s great,” ujar Veta antusias sambil menatap buku cerita bergambar yang baru diterimanya. Meski sebelumnya sudah membeli buku di toko bandara, ia tetap bersemangat membaca dan bahkan ingin kembali ke stan Mudik Asyik Baca Buku (MABB) 2026 untuk mencari bacaan lain.
Suasana ruang tunggu keberangkatan di bandara pagi itu tampak berbeda. Anak-anak terlihat ceria memilih buku di antara koper para pemudik. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk menghadirkan pengalaman literasi yang menyenangkan selama mudik.
Program MABB 2026 membawa pesan bahwa perjalanan mudik juga bisa menjadi ruang membangun kebiasaan membaca dalam keluarga. Orang tua pun menyambut positif kegiatan ini karena mampu mengurangi ketergantungan anak pada gawai dan memberikan alternatif aktivitas yang lebih edukatif.
Tahun ini, strategi pelaksanaan dibuat lebih efektif dengan menghadirkan stan langsung di ruang tunggu keberangkatan. Menurut Iwa Lukmana, langkah ini dilakukan agar interaksi dengan pemudik, khususnya anak-anak, menjadi lebih optimal saat mereka memiliki waktu luang sebelum keberangkatan.
Di Bandara Halim Perdanakusuma, sekitar 2.600 buku disiapkan dan dapat dibawa pulang secara gratis oleh pemudik. Buku-buku tersebut telah melalui proses kurasi dan didominasi cerita bergambar untuk menarik minat baca anak sejak dini.
Program ini juga mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk pengelola bandara yang menilai kegiatan tersebut sebagai upaya penting dalam menghidupkan kembali budaya literasi di tengah dominasi penggunaan gawai.
Melalui MABB 2026, pemerintah berharap kebiasaan membaca tidak hanya hadir saat perjalanan, tetapi terus tumbuh di lingkungan keluarga, menjadi bekal penting bagi generasi muda di masa depan.





























