Pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 tingkat Kota Salatiga menuai sorotan publik setelah terungkap bahwa para juri yang bertugas dalam ajang tersebut tidak menerima bayaran. Kegiatan yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kota Salatiga pada 6 Mei 2026 itu tetap berlangsung demi memberi kesempatan kepada para siswa berbakat untuk mengikuti kompetisi berjenjang hingga tingkat provinsi dan nasional. Namun di balik jalannya perlombaan, muncul fakta yang dianggap miris karena para juri harus bekerja tanpa honor dengan alasan efisiensi dan keterbatasan anggaran.
Salah satu juri, Bram Kusuma, membenarkan bahwa sejak awal dirinya sudah diberi informasi kemungkinan tidak mendapatkan bayaran. Menurutnya, panitia menyampaikan bahwa kondisi anggaran sedang mengalami efisiensi sehingga tidak tersedia dana khusus untuk honor juri. Meski demikian, para juri tetap bersedia terlibat karena mempertimbangkan masa depan dan bakat para siswa yang membutuhkan wadah untuk berkompetisi. Bram menilai lomba tetap harus berjalan agar peserta didik tetap memiliki kesempatan berkembang dan membawa nama daerah di tingkat lebih tinggi.
Pihak Dinas Pendidikan Kota Salatiga juga mengakui tidak adanya anggaran untuk pembayaran juri dalam kegiatan FLS3N tahun ini. Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Mudjiati, menyebut bahwa dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) memang tidak tersedia pos khusus untuk honor juri. Kondisi ini pun memunculkan ironi di tengah upaya pemerintah mendorong pengembangan seni dan kreativitas pelajar, namun di sisi lain apresiasi terhadap pihak yang mendukung kegiatan tersebut justru dinilai minim. Kasus ini kemudian ramai diperbincangkan masyarakat dan menjadi perhatian publik terkait prioritas anggaran di sektor pendidikan dan seni daerah.









