Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penguatan kolaborasi antarnegara di kawasan Asia Tenggara guna membangun kebijakan pendidikan yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut ditegaskan dalam penyelenggaraan SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang mempertemukan peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, serta berbagai mitra dari negara-negara Asia Tenggara.
Forum yang berlangsung selama tiga hari itu menjadi ruang kolaborasi untuk membahas berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi kawasan, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, transformasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pengembangan kompetensi guru, hingga upaya mewujudkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable and Sustainable Futures”, forum ini menekankan pentingnya menghubungkan hasil penelitian dengan proses perumusan kebijakan dan praktik pendidikan di lapangan. Pendekatan tersebut dinilai penting agar setiap kebijakan yang dihasilkan benar-benar berbasis bukti dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan yang terpisah-pisah. Menurutnya, kolaborasi antara peneliti, pemerintah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghasilkan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran dan berdampak luas.
Kemendikdasmen menilai riset memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah memahami perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta kebutuhan peserta didik di masa depan. Dengan memanfaatkan hasil penelitian secara optimal, kebijakan pendidikan dapat dirancang lebih adaptif terhadap tantangan global yang terus berkembang.
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan. Para peserta membahas berbagai peluang dan tantangan penggunaan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses pendidikan, serta memperkuat sistem pendidikan yang lebih merata di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Selain teknologi, pengembangan kapasitas guru juga menjadi agenda penting. Negara-negara di kawasan didorong untuk saling berbagi praktik baik dan hasil penelitian guna meningkatkan kualitas tenaga pendidik sebagai ujung tombak transformasi pendidikan. Penguatan kompetensi guru dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
Melalui SEAMEO CPRN Summit 2026, Kemendikdasmen berharap tercipta jaringan kolaborasi yang lebih kuat antara lembaga penelitian, pemerintah, dan institusi pendidikan di Asia Tenggara. Kerja sama tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis data, memperkuat inovasi pendidikan, serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul di tingkat regional.
Forum ini sekaligus menegaskan pentingnya budaya pengambilan keputusan berbasis riset dalam sektor pendidikan. Dengan memperkuat sinergi antara penelitian, kebijakan, dan praktik pendidikan, negara-negara Asia Tenggara diharapkan mampu menghadirkan sistem pendidikan yang lebih inklusif, adil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.









