Jakarta – Ketika sejumlah negara tengah menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), China justru menjalankan proyek ambisius untuk menghijaukan kawasan gurun. Program penghijauan berskala besar ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu proyek lingkungan paling panjang di negara tersebut.
China mulai menjalankan proyek Great Green Wall pada 1978. Program ini difokuskan di wilayah China bagian utara untuk menahan perluasan gurun, khususnya Gurun Gobi dan Taklamakan.
Proyek Penghijauan hingga 2050
Great Green Wall dirancang sebagai proyek jangka panjang yang ditargetkan selesai pada 2050. Penghijauan dilakukan untuk melindungi lahan pertanian, permukiman, jalan raya, dan jalur kereta api dari ancaman perluasan gurun.
Proyek tersebut mencakup sekitar 45 persen wilayah China. Pemerintah dan masyarakat terus melakukan penanaman serta pengelolaan kawasan hijau meski menghadapi kondisi lahan yang kering dan sulit ditanami.
Pada awal pelaksanaannya, program tersebut menghadapi berbagai tantangan. Sebagian tanaman yang ditanam ternyata tidak cocok dengan kondisi lahan yang sangat kering.
Namun, program terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih sesuai terhadap kondisi lingkungan setempat.
Tutupan Hutan Meningkat
Upaya panjang tersebut mulai menunjukkan hasil. Tutupan hutan di wilayah Great Green Wall meningkat dari sekitar 5 persen pada 1978 menjadi 14 persen pada 2023.
Peningkatan vegetasi juga disebut berkontribusi terhadap penurunan frekuensi dan intensitas badai debu. Dampaknya turut dirasakan di sejumlah kota yang berada di arah angin, termasuk Beijing.
Pada 2024, pemerintah China mengumumkan penyelesaian penghijauan sepanjang sekitar 3.046 kilometer di sekitar kawasan gurun melalui penanaman miliaran pohon dan semak.
Padukan Penghijauan dengan Energi Terbarukan
Menariknya, kawasan gurun China dalam beberapa tahun terakhir juga berkembang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga surya dan angin berskala besar.
Panel surya tidak hanya menghasilkan energi. Keberadaannya juga dapat memberikan naungan, membantu mempertahankan kelembapan tanah, menurunkan suhu permukaan, dan mengurangi penguapan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana lahan kering dapat dimanfaatkan dengan menggabungkan penghijauan, konservasi lingkungan, dan pengembangan energi terbarukan.
Libatkan Generasi Muda dan Teknologi
Keberlanjutan proyek juga didukung keterlibatan generasi muda. Salah satunya adalah Shi Jianyang, yang setelah mempelajari teknologi kehutanan kemudian bekerja di bidang pengendalian gurun.
Timnya melakukan berbagai penelitian lapangan, mulai dari mengukur curah hujan, mempelajari mikroorganisme tanah, hingga memantau kondisi tanaman. Teknologi seperti drone dan sistem irigasi yang dapat dikendalikan dari jarak jauh juga digunakan untuk mendukung pengelolaan kawasan.
Kisah Great Green Wall menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan bukan pekerjaan instan. Penghijauan gurun membutuhkan strategi jangka panjang, pemilihan tanaman yang tepat, teknologi, penelitian, serta konsistensi lintas generasi.
















